Pagar Nusa di antara Dua Presiden

  • 22 Okt 2023 21:13 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Senyum Presiden Joko Widodo ( Jokowi) mengembang. Sapaan salam diperlihatkan. Setelan jas berwarna putih dipadu surban dan sarung hijau serta peci menjadi ciri khas.

Pagi itu ribuan pendekar tengah berkumpul. Kedatangan Presiden dinanti. Ketika tiba di lapangan Jala Krida Mandala Surabaya, tepuk tangan riuh terdengar mengiringi kedatangan Presiden.

Para pendekar ini tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Jatim, namun ada juga yang dari luar Jawa Timur, seperti Yogyakarta, Jawa Tengah, dan luar pulau, seperti Kalimantan Utara.

"Kami rombongan tiba kemarin (red Sabtu 21 Oktober). Tujuannya datang ya ingin dapat barokahnya Kiyai," kata Ardi ditemui di kegiatan acara Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa di Jala Krida, Bumimoro.

Bagi Ketua Umum PP Pagar Nusa Nahdlatul Ulama H.M. Nabil Haroen, hadirnya Presiden merupakan hal spesial. Betapa tidak dari serentetan kepala negara memimpin negeri ini, Jokowi merupakan Presiden kedua yang peduli dengan hadir di kegiatan Pagar Nusa.

"Ini merupakan kebanggan dan kebahagiaan untuk kami. Presiden pertama yang hadir di acara Pagar Nusa menggunakan pakaian yang dipakai Pak Jokowi adalah, almarhum KH Abdurrahman Wahid. Semoga kehadiran Pak Jokowi juga seperti Gus Dur, tetap harum namanya," ungkap Nabil Haroen, Minggu, (22/10/2023).

Jika melihat seragam yang dipakai Jokowi memang berbeda. logo lambang Pencak Silat Pagar Nusa di dada sebelah kanan menjadi pertanda. Hal itu lah yang membuat Gus Nabil melihat orang nomor satu di negeri ini istimewa.

Terlihat jelas lambang logo di jas Jokowi bergambar bola dunia yang didalamnya terdapat garis lintang, garis bujur, garis katulistiwa serta trisula ditengahnya.

Selain itu, terdapat sembilan bintang melingkari bagian atas bola dunia dengan bintang bagian tengah atas lebih besar.

Logo itu bertuliskan PENCAK SILAT NAHDLATUL ULAMA berbentuk setengah lingkaran yang terletak diatas sembilan bintang, tulisan PAGAR NUSA berada dibawah tulisan.

Mengenai penyelenggaraan Ijazah Kubro Pagar Nusa, Nabil Haroen menyampaikan bahwa hal ini merupakan bagian dari ritual penting dan perjuangan kaum santri.

Bagi Gus Nabil kegiatan yang dilakukan di lapangan Bumi Moro ini merupakan napak tilas berkaitan dengan Peristiwa 10 November, sementara peristiwa tersebut memiliki keterkaitan dengan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

"Bumi Moro merupakan tempat pertempuran antara para pejuang Indonesia dengan Sekutu yang diboncengi oleh NICA. Kemudian tidak jauh dari tempat tersebut, Brigjen Mallaby dari Sekutu tewas oleh santri," terangnya.

Sementara itu Presiden Joko Widodo mengapresiasi prosesi Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa.

"Pertama-tama, saya ingin menyampaikan ucapan selamat atas penyelenggaraan Ijazah Kubro dan Pengukuhan Pimpinan Pusat Pagar Nusa masa khidmat 2023-2028 acara yang diselenggarakan pada pagi hari ini, bersamaan dengan peringatan Hari Santri yang kita maknai sebagai mewariskan semangat Hari Santri hari kepada keluarga besar Pagar Nusa," ungkap Jokowi dalam sambutannya.

Jokowi lantas mengajak hadirin yang hadir mundur kebelakang atau tepatnya memaknai 22 Oktober 1945. Rentetan sejarah itu dinilai penting, peristiwa akbar perjuangan antara kyai dan santri.

Seruan jihad untuk mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajah waktu itu adalah fardhu ain, saat berperang melawan musuh itu. Hukumnya adalah mati syahid.

"Fatwa ini luar biasa dan kemudian kita peringati sebagai Hari Santri. Tujuan Hari Santri ini sangat mulia yaitu mengingat, mengenang dan meneladani perjuangan kaum santri dalam menegakkan kemerdekaan Indonesia," ungkap Jokowi

Kesempatan ini Presiden Joko Widodo juga menyampaikan pesan dan mengajak agar para pendekar dan kader Pagar Nusa menjadi juru damai di tengah pelbagai konflik dan tawuran antar kelompok pesilat yang kerap tejadi.

"Saya titip kita semuanya harus menjaga jangan sampai yang sering kita baca, yang sering kita dengar antara perguruan pencak silat berantem, berkelahi tapi saya sakin Pagar Nusa tidak ada yang seperti itu. Justru menjaga, justru mendamaikan. Setuju?," demikian ajak Presiden Joko Widodo.

Presiden juga menyampaikan pentingnya menjaga kekayaan budaya Nusantara, seperti yang dilakukan Pagar Nusa untuk merawat Pencak Silat sebagai khazanah nusantara.

"Marilah, saya mengajak mengasah terus meningkatkan rasa cinta dan bangga kepada bangsa kita dengan menjaga kedaulatan bangsa melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya Nusantara," terangnya.

Dalam kegiatan ijazah Kubro Presiden juga menyempatkan menghampiri para pedekar yang hadir. Jokowi juga membagikan beberapa kaos dan mengajak foto.

Selepas dari lapangan Jala Krida Mandala Bumimoro Surabaya, Presiden dan rombongan bersilaturahmi dengan kiai-kiai sepuh di Kantor PCNU Surabaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....