Harga BBM Subsidi Stabil, Pemerintah Antisipasi Gejolak Minyak Global

  • 06 Okt 2026 09:38 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi.
  • Subsidi perlu tepat sasaran agar tidak terjadi kebocoran kepada kelompok yang tidak berhak menerima manfaat.
  • Gejolak harga minyak global berpotensi meningkatkan konsumsi, sehingga pengendalian konsumsi menjadi opsi pemerintah.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi hingga akhir 2026 untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas. Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional, Saleh Abdurrahman menilai subsidi tetap penting selama penyalurannya tepat sasaran benar-benar.

Ia mengatakan pemerintah perlu menjaga kemampuan masyarakat beraktivitas melalui harga energi yang terjangkau di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, kebijakan tersebut juga berkaitan dengan upaya menjaga pertumbuhan ekonomi agar konsumsi masyarakat tetap bergerak sehat dan terukur.

"Pemerintah selama ini ingin menjaga daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga melalui kebijakan subsidi energi nasional. Fungsi subsidi sebenarnya memberikan kemudahan bagi masyarakat agar aktivitas mereka tetap berjalan dan kebutuhan sehari-hari dapat terbantu terus," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 6 Oktober 2026.

Namun, ia mengingatkan subsidi dapat menimbulkan kebocoran apabila manfaatnya justru diterima kelompok yang tidak berhak mendapatkan dukungan tersebut. Karena itu, pemerintah dinilai perlu memastikan penyaluran subsidi lebih tepat sasaran agar anggaran negara memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia juga menjelaskan harga energi domestik menghadapi risiko ketika harga minyak internasional mengalami gejolak akibat berbagai faktor geopolitik. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsumsi energi dalam negeri sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah pengendalian agar beban subsidi terkelola.

"Ketika harga minyak global bergejolak karena faktor geopolitik, risikonya konsumsi dalam negeri semakin tinggi dan perlu dikendalikan pemerintah. Kalau harga tidak dinaikkan menghadapi dinamika global tersebut, opsi yang tersedia adalah mengendalikan konsumsi agar subsidi tetap terkendali," ujarnya.

Menurutnya, pemerintah memiliki pilihan mengendalikan konsumsi ketika harga BBM subsidi dipertahankan meski kondisi energi global mengalami perubahan. Langkah pengendalian diperlukan agar peningkatan konsumsi tidak memperbesar tekanan fiskal sekaligus menjaga manfaat subsidi tetap dirasakan secara masyarakat.

Ia menambahkan, pemerintah mempertimbangkan inflasi sebagai salah satu alasan menjaga harga BBM subsidi tetap stabil hingga akhir 2026. Data inflasi September tercatat menjadi perhatian dalam pembahasan kebijakan energi, terutama terkait daya beli masyarakat dan biaya kebutuhan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....