Kemenperin Dorong IKM Fesyen Rancang Produk dari Kebutuhan Pasar

  • 03 Okt 2026 23:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perindustrian mendorong IKM fesyen dan kriya untuk merancang produk berdasarkan kebutuhan dan preferensi pasar konsumen.
  • Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Reni Yanita menekankan bahwa desain memiliki peran penting dalam pengembangan produk yang berorientasi pada kebutuhan konsumen.
  • Pelaku IKM perlu memahami karakter dan preferensi konsumen sejak tahap awal perancangan produk untuk meningkatkan relevansi produk di pasar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian mendorong industri kecil dan menengah (IKM) fesyen dan kriya merancang produk berdasarkan kebutuhan pasar. Pelaku IKM perlu memahami karakter dan preferensi konsumen sejak tahap awal perancangan produk.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan pengembangan produk perlu semakin berorientasi pada kebutuhan pasar. Menurutnya, desain memiliki peran penting dalam proses pengembangan produk yang berorientasi pada kebutuhan konsumen.

“Pengembangan produk tidak cukup hanya berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang dapat diproduksi. Tetapi juga perlu mempertimbangkan siapa konsumennya, apa kebutuhannya, serta peluang apa yang dapat dijawab melalui produk tersebut,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Sebagai bagian upaya, Kemenperin melalui BPIFK menyelenggarakan Kick Off Design Canvas & Design Maker 2026, 17 September 2026. Kegiatan dilaksanakan secara hibrida di Auditorium BPIFK, Badung, Bali.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Read the Market, Design the Product: Menjawab Kebutuhan Konsumen melalui Desain”. Program ini diarahkan untuk membantu IKM fesyen dan kriya mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar melalui pendekatan berorientasi konsumen.

Design Canvas dan Design Maker 2026 menerapkan pendekatan co-creation yang mempertemukan pelaku IKM fesyen dan kriya dengan mahasiswa. Pelaksanaannya melibatkan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana.

Program tersebut juga melibatkan CAP Bali sebagai mitra kolaborator. Kolaborasi mencakup pendampingan mulai dari pengembangan ide dan desain hingga penguatan aspek pasar dan pengembangan usaha.

Reni menjelaskan kolaborasi IKM dan perguruan tinggi mempertemukan pengalaman pelaku usaha dengan pengetahuan, kreativitas, serta perspektif baru dari kalangan akademisi dan mahasiswa. Kolaborasi tersebut juga memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan kebutuhan nyata industri.

“Melalui komposisi peserta yang terdiri dari IKM dan mahasiswa, kami berharap tercipta proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan kebutuhan nyata industri, sementara IKM memperoleh perspektif, ide, dan alternatif pengembangan produk,” kata Reni.

Reni berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti sebagai aktivitas, tetapi menghasilkan ide dan prototipe. Ide dan prototipe tersebut dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang pasar.

“Design Canvas dan Design Maker memberikan ruang bagi IKM untuk melihat kembali produknya dari perspektif konsumen. Sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan kreativitasnya pada kebutuhan nyata industri,” ucap Reni.

Sementara itu, Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan Design Canvas dan Design Maker dirancang sebagai rangkaian pengembangan produk yang saling berkesinambungan. Melalui Design Canvas, peserta diarahkan menggali potensi IKM, memahami kebutuhan dan preferensi konsumen, serta merumuskan ide dan konsep desain berdasarkan peluang pasar.

“Selanjutnya, Design Maker mengarahkan gagasan tersebut ke tahap pembuatan prototipe dan penyempurnaan produk. Dengan mempertimbangkan aspek desain, fungsi, serta potensi pengembangannya menjadi produk bernilai tambah,” ujar Dickie.

Kick Off Design Canvas & Design Maker 2026 diikuti 70 peserta, dinas industri, IKM, dosen, dan mahasiswa Bali. Kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pelaku industri kreatif.

Materi yang diberikan meliputi pemahaman kebutuhan dan preferensi konsumen, riset pasar, serta perumusan konsep desain. Materi juga mencakup penerjemahan gagasan menjadi prototipe dan produk bernilai tambah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....