Denny JA Raih AMA Appreciation Award 2026, Soroti Kepemimpinan Berdampak

  • 02 Okt 2026 11:27 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Bali - Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Denny JA, menerima AMA Appreciation Award 2026 di Sanur, Bali. Penghargaan tersebut diberikan dalam AMA Indonesia Conference 2026 yang mengangkat tema “From Management to Wealth Creation”.

AMA, Asosiasi Manajemen Indonesia, merupakan organisasi profesional yang berdiri sejak 1989 sebagai ruang pembelajaran dan jejaring praktisi manajemen Indonesia. AMA Indonesia menilai Denny JA berkontribusi memperluas wawasan strategis PHE, mendorong keputusan profesional, serta memperkuat kepemimpinan perusahaan.

Dalam pidatonya, Denny JA mengajak peserta tidak memandang penghargaan sebagai puncak perjalanan, melainkan momentum mempertanyakan kembali makna kepemimpinan. Ia mengajak peserta melihat perubahan teknologi, kebutuhan manusia, dan tantangan zaman sebagai bagian penting dalam menentukan arah organisasi.

Merenungkan tema wealth creation, Denny JA mengangkat kisah Elon Musk dan SpaceX sebagai gambaran penciptaan nilai baru. Menurutnya, kekayaan besar tidak semata lahir dari penguasaan pasar lama, tetapi juga kemampuan menciptakan kemungkinan dan kebutuhan baru.

SpaceX mengubah lanskap industri ruang angkasa melalui pengembangan teknologi roket yang memungkinkan bagian utama roket digunakan kembali. Prinsip reusable rocket membantu menekan biaya peluncuran sekaligus membuka peluang baru dalam ekonomi ruang angkasa.

Dari ekosistem SpaceX kemudian berkembang Starlink, jaringan internet berbasis satelit orbit rendah yang menghubungkan semakin banyak wilayah dunia. Teknologi tersebut menunjukkan bagaimana kebutuhan yang belum terpenuhi dapat diubah menjadi nilai dan peluang ekonomi baru.

Denny JA menyebut konsep tersebut sebagai wealth creation dalam pengertian yang lebih luas, yakni kemampuan menciptakan nilai melalui teknologi, keberanian, dan imajinasi. Menurutnya, proses tersebut dimulai dari keberanian melihat kebutuhan yang belum terjawab.

Dalam konteks kepemimpinan, Denny JA memperkenalkan istilah defining question sebagai pertanyaan mendasar yang menentukan arah organisasi. Ia mengajak pemimpin bertanya, “Apa yang paling dibutuhkan zaman, manusia, dan lingkungan saya saat ini, yang dapat diberikan oleh organisasi yang saya pimpin?”

Pertanyaan tersebut kemudian menjadi refleksi Denny JA ketika dipercaya memimpin sebagai Komisaris Utama PHE. Meski tidak berasal dari latar belakang profesional industri energi, ia membawa pengalaman dari berbagai bidang usaha dan manajemen.

Pengalaman Denny JA mencakup bisnis hospitality, hotel dan restoran, konsultan politik, lembaga survei, hingga pertambangan. Dari pengalaman tersebut, ia membawa pertanyaan mengenai kebutuhan Indonesia terhadap PHE serta perubahan yang dapat dilakukan perusahaan.

Menurut Denny JA, terdapat dua jalan besar yang harus berjalan bersama, yakni memperbesar produksi dan memperkuat institusi. Produksi diperlukan untuk memenuhi kebutuhan energi, sementara institusi yang kuat memastikan keputusan besar dapat diambil secara profesional dan bertanggung jawab.

Di bidang produksi, PHE mencanangkan aspirasi 1M29, yakni mencapai produksi satu juta barel minyak per hari pada 2029. Target tersebut membutuhkan eksplorasi, teknologi, optimalisasi lapangan eksisting, serta berbagai terobosan untuk menemukan sumber pertumbuhan produksi baru.

PHE juga mengembangkan PHE Goes Global melalui merger dan akuisisi selektif di luar negeri untuk membuka sumber produksi internasional. Langkah tersebut diarahkan memperkuat ketahanan energi Indonesia ketika kebutuhan nasional melampaui kemampuan sumber daya domestik.

Namun, Denny JA menilai produksi besar membutuhkan institusi dengan kualitas pengambilan keputusan yang kuat. Industri hulu migas menghadapi ketidakpastian sehingga kegagalan eksplorasi tidak selalu menunjukkan kesalahan, selama proses keputusan dilakukan secara profesional.

Karena itu, Denny JA mendorong penguatan ekosistem Business Judgment Rule (BJR) untuk memberikan kepastian terhadap keputusan bisnis yang profesional. Menurutnya, mekanisme tersebut perlu membedakan kerugian akibat korupsi dengan kerugian akibat risiko bisnis yang sah.

Bersama lembaga akademik, PHE mengambil inisiatif mengusulkan pembentukan Dewan Business Judgment Rule melalui regulasi. Bagi Denny JA, kepemimpinan korporasi bukan hanya menjaga perusahaan, tetapi menciptakan kemungkinan baru dan meninggalkan institusi yang lebih kuat bagi generasi berikutnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....