Raih Public Leadership Award UMS, Wamendikdasmen: Ilmu Harus Bermuara Pengabdian

  • 02 Agt 2026 09:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq menerima penghargaan Public Leadership Award dari Universitas Muhammadiyah Surakarta di ajang UMS Award 2026.
  • Penghargaan diberikan berdasarkan rekam jejak, integritas, prestasi, kepemimpinan, dan kontribusi Fajar terhadap masyarakat dan bangsa.
  • Fajar memaknai penghargaan sebagai pengingat bahwa ilmu dan kepemimpinan harus dikembalikan menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menghadiri Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Award 2026. Dalam kesempatan itu Fajar menerima penghargaan sebagai Public Leadership Award.

Bagi Fajar, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan atas perjalanan karier, melainkan pengingat ilmu dan kepemimpinan pada akhirnya harus kembali menjadi pengabdian. Fajar menerima penghargaan atas rekam jejak, integritas, prestasi, kepemimpinan, serta kontribusinya bagi masyarakat dan bangsa.

“Saya hadir dengan amanah sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Tetapi sesungguhnya saya sedang pulang ke tempat yang ikut membentuk cara saya memahami pendidikan, keislaman, kemuhammadiyahan, dan Indonesia,” kata Fajar.

Kampus, menurut dia, memberinya ruang untuk membaca, bertanya, dan berjumpa dengan gagasan. Sementara Shabran mengajarkannya bahwa kecerdasan membutuhkan arah nilai.

Dari pengalaman itulah, katanya, tumbuh keyakinan bahwa pendidikan bukan hanya perkara apa yang diketahui seseorang. Melainkan untuk apa pengetahuan itu digunakan.

"Jabatan memiliki batas waktu, penghargaan suatu saat menjadi arsip, gelar akademik tinggal beberapa huruf di belakang nama. Yang lebih lama tinggal adalah jejak manfaat yang kita tinggalkan pada kehidupan orang lain,” ujarnya.

Menurut Fajar, tantangan Indonesia semakin kompleks. Menurutnya, kecerdasan buatan mengubah cara manusia belajar dan bekerja, kompetisi talenta semakin terbuka, sementara ketimpangan sosial masih menjadi pekerjaan bersama.

Karena itu, Indonesia tidak cukup hanya melahirkan orang pintar. “Indonesia membutuhkan orang terdidik yang bersedia mengambil tanggung jawab,” katanya.

Fajar menilai, alumni perguruan tinggi memiliki posisi strategis karena berada di antara dunia pengetahuan dan kenyataan masyarakat. Mereka diharapkan menjadi jembatan antara ilmu dan persoalan nyata, antara gagasan dan kebijakan, serta antara kampus dan pembangunan.

Hingga Juni 2026 tercatat tak kurang dari 181.761 mahasiswa telah lulus dari UMS dalam berbagai jenjang. Jumlah yang luar biasa dari sebuah kampus swasta yang telah eksis sejak 67 tahun yang lalu.

Fajar juga mengingatkan bahwa pendidikan tidak mungkin menjadi pekerjaan pemerintah semata. “Pendidikan adalah urusan semua orang, karena masa depan bangsa adalah urusan semua orang,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Fajar mendorong alumni UMS mengubah kekuatan jejaring menjadi ekosistem kolaborasi. Semboyan IKA UMS, Reconnect, Share, Together, perlu diwujudkan melalui berbagi pengetahuan, pengalaman, kesempatan, dan jejaring untuk menjawab persoalan masyarakat.

Peran tersebut, menurut dia, semakin penting menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang hari ini berada di SD, SMP, dan SMA akan menjadi generasi utama Indonesia dua dekade mendatang.

“2045 bukan janji sejarah, ia adalah hasil dari keputusan yang kita ambil hari ini. Kita harus bergerak dari alumni sebagai jaringan sosial menjadi alumni sebagai kekuatan pembangunan,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....