BPOM Gandeng Masyarakat Tekan Penyakit Tidak Menular

  • 02 Okt 2026 15:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • BPOM mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan upaya pencegahan penyakit tidak menular
  • Hal ini sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien

RRI.CO.ID, Tangerang - BPOM mengajak masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan untuk meningkatkan upaya pencegahan penyakit tidak menular. Hal ini sebagai bagian dari upaya menjaga keselamatan pasien.

Puncak peringatan Patient Safety Day 2026 yang diselenggarakan BPOM di Lippo Village Main Campus Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang. Mengusung tema “Prevent Non-Communicable Diseases, Protect Lives”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan World Patient Safety Day (WPSD) 2026 yang diinisiasi World Health Organization (WHO). Tema global WPSD tahun ini adalah “Safe care for noncommunicable diseases” dengan slogan “Safe care for life!”.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan keselamatan, keamanan dan kesembuhan pasien merupakan aspek utama dalam pelayanan kesehatan. Meningkatnya beban PTM perlu direspons melalui upaya promotif dan preventif, selain memastikan pelayanan dan pengobatan yang aman.

“Kata kuncinya adalah mencegah penyakit tidak menular melalui program promotif dan pencegahan, antara lain dengan membatasi gula, garam, dan lemak. Penyakit tidak menular, seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas, dapat berdampak pada penyakit yang lebih berat, seperti penyakit stroke, kanker, atau penyakit kardiovaskuler lainnya,” ujar Taruna, Jumat 2 Oktober 2026.

Berdasarkan data dari WHO, penyakit tidak menular menyumbang 74 persen kematian secara global. Di Indonesia, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi berdasarkan pengukuran sebesar 30,8 persen pada penduduk usia 18 tahun ke atas.

Diabetes berdasarkan pemeriksaan kadar gula darah sebesar 11,7 persen pada penduduk usia 15 tahun ke atas dan obesitas pada penduduk usia di atas 18 tahun sebesar 23,4 persen. Selain pencegahan penyakit tidak menular keselamatan pasien juga berkaitan erat dengan keamanan penggunaan obat.

Taruna menyampaikan pengawasan obat perlu dilakukan di sepanjang siklus hidup produk, termasuk melalui pengawasan post-market (farmakovigilans) setelah obat beredar di masyarakat. “Kalau masyarakat sudah sakit, kita harus memastikan teknik pengobatan dan pelayanan, termasuk produk obat dan makanan di masyarakat, mampu termonitor post-market-nya melalui sistem farmakovigilans,” ucapnya.

Menurut Taruna, pelaporan farmakovigilans oleh masyarakat masih perlu ditingkatkan. Untuk itu, BPOM telah menyediakan aplikasi pelaporan secara daring mengenai masalah yang berkaitan dengan penggunaan obat dan efek sampingnya, yaitu melalui sistem pelaporan elektronik Monitoring Efek Samping Obat (e-MESO).

Implementasi farmakovigilans tersebut juga diperkuat melalui Peraturan BPOM Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Farmakovigilans. “Kegiatan hari ini bisa menjadi edukasi dan promosi agar pelaporan farmakovigilans sampai ke masyarakat," kata dia.

Harapannya, dunia akademik dapat bekerja sama dengan pemerintah (BPOM, Kementerian Kesehatan) dan seluruh pemangku kepentingan. Untuk mewujudkan tujuan dari World Patient Safety Day.

Puncak peringatan Patient Safety Day 2026 hari ini diikuti oleh sekitar 450 peserta luring serta diikuti juga oleh peserta daring melalui kanal Zoom Meeting dan tayangan langsung di kanal YouTube BPOM. Penyelenggaraan kegiatan di lingkungan perguruan tinggi dilakukan untuk memperkenalkan budaya keselamatan pasien sejak masa pendidikan.

Deputi Bidang Pengawasan Obat, Narkotika, Psikotropika, Prekursor dan Zat Adiktif (Deputi 1) BPOM, William Adi Teja dalam laporannya menyampaikan mahasiswa menjadi sasaran kegiatan. Karena mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang penting untuk mulai membangun dan menanamkan kesadaran akan praktik layanan kesehatan yang mengutamakan keselamatan pasien.

Dukungan terhadap penyelenggaraan kegiatan ini disampaikan oleh Rektor UPH Jonathan L. Parapak. Ia mengapresiasi BPOM yang menjadikan UPH sebagai lokasi puncak peringatan Patient Safety Day dan berharap kegiatan serupa dapat direplikasi di perguruan tinggi lainnya.

“Saya bersyukur sekarang ada langkah baru dari BPOM untuk masuk kampus dan mudah-mudahan contoh ini menjadi model untuk kampus lain. Saya berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti di UPH, tetapi juga di universitas lain sehingga [manfaat] berbagai upaya kreatif BPOM dapat dinikmati masyarakat,” kata dia.

Perwakilan WHO Indonesia, Uhjin Kim yang turut hadir dalam kesempatan tersebut, menegaskan keselamatan pasien merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Hal tersebut juga menjadi aspek penting dalam pelayanan kesehatan dalam upaya pencapaian tujuan universal health coverage.

WHO juga menyatakan komitmennya untuk menjadi mitra dalam mendukung agenda BPOM dalam mendorong upaya peningkatan layanan kesehatan di Indonesia yang berfokus pada keselamatan pasien. Selanjutnya, puncak kegiatan hari ini ditandai dengan simbolis penyampaian patient safety commitment melalui Wellness Tree.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....