Sekolah dan Kampus Perlu Perkuat Sistem Penanganan Narkoba
- 30 Sep 2026 23:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sekolah dan kampus membutuhkan sistem yang jelas dan terstruktur untuk menangani peserta didik yang memiliki masalah penyalahgunaan narkoba, bukan hanya menerapkan sanksi administratif semata.
- Penanganan efektif memerlukan keterlibatan aktif tenaga profesional seperti psikiater untuk memberikan intervensi yang tepat dan berkelanjutan.
- Asesmen kondisi pengguna narkoba menjadi langkah awal penting untuk menentukan tingkat ketergantungan dan dampak kesehatan yang dialami, sehingga memungkinkan perencanaan penanganan yang lebih akurat.
RRI.CO.ID, Jakarta — Sekolah dan kampus butuh sistem jelas untuk menangani peserta didik bermasalah narkoba. Penanganan tak cukup dengan menerapkan sanksi, tapi juga memerlukan keterlibatkan tenaga profesional.
Psikiater PP-PDSKJI dr. Lahargo Kembaren menyebut penanganan harus diawali asesmen kondisi pengguna. Asesmen in ditujukan untuk mengetahui tingkat ketergantungan dan dampak yang dialami.
"Yang pertama, dia perlu dilakukan asesmen dulu. Apakah memang sudah mengalami ketergantungan atau adiksi terhadap narkobanya," ujar Lahargo saat berbincang bersama Pro3 RRI, Rabu, 30 September 2026.
Pemeriksaan juga mencakup kondisi fisik dan mental pengguna. Psikiater akan memeriksa kemungkinan gangguan cemas, depresi, hingga keinginan mengakhiri hidup.
Mereka juga bisa diarahkan ke layanan penanganan adiksi yang tersedia secara berjenjang melalui fasilitas kesehatan. Kasus dapat ditangani mulai dari puskesmas hingga rumah sakit dengan layanan psikiatri dan kesehatan mental.
Sejalan dengan itu, Pengamat Pendidikan UIN Jakarta, Dr. Jejen Musfah, mengatakan sekolah dan kampus perlu mengevaluasi sistem penanganan narkoba yang dimiliki. Menurutnya, aturan dan kode etik perlu didukung sistem yang mampu mencegah serta menangani kasus secara efektif.
"Kita benar-benar siap ya, ada sistem yang betul-betul canggih, bagus, dan efektif untuk isu ini. Saya kira memang kita harus duduk kembali nih," kata Jejen.
Jejen mengatakan guru dan dosen juga membutuhkan peningkatan pengetahuan terkait penanganan penyalahgunaan narkoba. Menurutnya, pelatihan dapat membantu tenaga pendidikan memahami cara mencegah dan menangani kasus tersebut.
Ia menilai sekolah dan kampus tidak seharusnya hanya menunggu munculnya kasus sebelum mengambil tindakan. Upaya pencegahan perlu dibangun melalui sistem yang melibatkan tenaga pendidikan dan para ahli.
Lahargo menambahkan keluarga dan lingkungan pendidikan juga perlu mengenali perubahan perilaku pada pengguna narkoba. Perubahan tersebut dapat terlihat melalui emosi, pola tidur, prestasi belajar, hubungan sosial, dan perilaku berisiko.
"Kalau udah ada gejala-gejala seperti itu, sebaiknya dilakukan konsultasi ke profesional kesehatan jiwa. Untuk bisa kita periksa dan diberikan penanganan yang cepat dan tepat,” ucapnya.
Menurut Jejen, pendekatan pendidikan juga perlu mengutamakan rehabilitasi sesuai tingkat ketergantungan. Penanganan tersebut diharapkan membantu peserta didik pulih tanpa mengabaikan keselamatan lingkungan pendidikan.
Pemerintah kini tengah merumuskan konsep pendidikan dan rehabilitasi pengguna narkoba dengan melibatkan perguruan tinggi. Pemerintah juga mendorong pemanfaatan praktik baik kampus dalam menyusun model rehabilitasi bagi anak muda.
Dengan sistem yang lebih terarah, sekolah dan kampus dapat memiliki alur penanganan ketika menemukan kasus narkoba. Pendekatan tersebut juga dapat memperkuat pencegahan sekaligus membuka akses bantuan bagi peserta didik yang membutuhkan. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....