Kenapa Indonesia Sering Gempa? Ini Penjelasan Peneliti BRIN

  • 29 Sep 2026 13:50 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa dengan magnitudo 4,8 mengguncang wilayah Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 22 September 2026 dengan pusat gempa berlokasi di laut, 31 kilometer timur laut Mbay.
  • BMKG mencatat bahwa wilayah tersebut berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia, menjadikan Indonesia rawan terhadap risiko bencana geologi yang besar.
  • Kondisi geologi Indonesia yang berada di pertemuan lempeng tektonik berkontribusi pada kekayaan sumber daya alam sekaligus meningkatkan potensi bencana gempa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bermagnitudo 4,8 mengguncang wilayah Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa, 22 September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa berada di laut, 31 kilometer timur laut Mbay.

Gempa itu terjadi di kawasan yang secara geologis berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik dunia. Kondisi ini membuat Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, sekaligus risiko bencana geologi yang besar.

"Mereka ini bergerak terus, punya kecepatan antara 7 sampai 11 sentimeter per tahun. Energinya nanti diakomodasi, kemudian tersalurkan ke kepulauan Indonesia, baik dalam bentuk getaran gempa ataupun aktivitas gunung api," ujar Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Edy Hidayat, dalam wawancara RRI Pro 3, Selasa, 29 September 2026.

Lempeng Indo-Australia bergerak dari selatan, lempeng Eurasia dari utara, dan lempeng Pasifik dari timur. Ketiganya bertemu di sekitar wilayah kepulauan Indonesia dan memicu berbagai aktivitas geologi.

Edy mencontohkan lempeng Indo-Australia yang menunjam di bawah kepulauan Indonesia, mulai dari barat Sumatra hingga selatan Jawa. Proses itu menciptakan gesekan di batas pertemuan kedua lempeng tersebut.

"Batas-batas antara pertemuannya, di situlah terjadi gesekan yang kemudian akumulasi energi terkumpul. Jika energi itu tak lagi bisa ditahan batuan, gesekan tersebut akan pecah menjadi gempa," ujar Edy.

Selain jalur subduksi, Indonesia juga dikelilingi jalur gunung berapi yang dikenal sebagai Ring of Fire. Edy menyebut jalur itu berdempetan dengan zona subduksi di barat Sumatra hingga timur Indonesia.

Menurutnya, aktivitas magmatisme di bawah gunung berapi turut menghasilkan logam mulia dan sumber panas bumi. Namun, ia mengingatkan gunung berapi aktif juga menyimpan risiko erupsi akibat tekanan magma dan gas.

Edy menambahkan debu vulkanik hasil erupsi justru bisa menyuburkan tanah dalam jangka puluhan tahun. Kondisi itu menjelaskan mengapa wilayah sekitar gunung berapi aktif kerap memiliki lahan pertanian subur.

BRIN telah memetakan jalur-jalur potensi gempa di Indonesia beserta perkiraan magnitudonya. Hasil pemetaan itu didiseminasikan ke pemerintah daerah dan BPBD, khususnya wilayah pesisir yang berhadapan langsung dengan laut.

Edy menekankan hingga kini belum ada alat yang bisa memprediksi tepat kapan gempa akan terjadi. Namun, potensi tsunami pascagempa di laut relatif bisa diperkirakan lewat pemantauan BMKG.

"Seperti kejadian di Pangandaran, itu cuma beberapa menit. Tetapi justru beberapa menit ini adalah waktu emas, golden time, untuk kita bisa menyelamatkan diri," katanya.

BRIN turut menyusun panduan sederhana bersama Kementerian Pendidikan dan Kementerian Dalam Negeri untuk menghadapi situasi tersebut. Panduan itu mencakup langkah darurat saat gempa serta daftar isi tas siaga bencana. (Nikita Yunistia Maryam)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....