Angka Stunting Turun, Pemerintah Tetap Perkuat Intervensi Gizi
- 29 Sep 2026 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Angka stunting Indonesia turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024, pertama kalinya berada di bawah 20 persen.
- Pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada 2025 mampu memperbaiki status gizi kurang pada balita sebesar 62 persen dan berat badan kurang sebesar 54,5 persen.
- Penurunan stunting membutuhkan kerja sama lintas kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat, disertai evaluasi serta intervensi yang semakin terarah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerintah terus memperkuat upaya penurunan stunting sebagai bagian dari persiapan menyambut Generasi Emas Indonesia 2045. Tenaga Ahli Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Hariqo Satrio menegaskan bahwa kesehatan ibu dan anak tetap menjadi prioritas pembangunan nasional.
Penurunan anggaran stunting di tengah berbagai kebutuhan pembangunan menjadi perhatian, terutama terkait keberlanjutan program perbaikan gizi masyarakat. Ia menjelaskan, penanganan stunting tidak hanya bergantung pada satu program, tetapi membutuhkan intervensi berkelanjutan yang melibatkan berbagai sektor.
"Secara nasional, kita melihat kemajuan yang sangat nyata dalam menurunkan angka stunting di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Prevalensi stunting turun dari 21,5 persen pada 2023 menjadi 19,8 persen pada 2024," ujarnya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Selasa, 29 September 2026.
Capaian tersebut menjadi catatan penting karena untuk pertama kalinya prevalensi stunting Indonesia berhasil berada di bawah angka 20 persen. Meski demikian, pemerintah tetap perlu memperkuat berbagai langkah pencegahan agar penurunan angka stunting dapat terus berlanjut secara konsisten.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal bagi balita yang mengalami masalah gizi. Berdasarkan analisis dampak pada 2025, program tersebut menunjukkan hasil positif dalam memperbaiki status gizi anak yang membutuhkan perhatian khusus.
Pemberian makanan tambahan lokal mampu memperbaiki kondisi gizi kurang pada balita sebesar 62 persen berdasarkan hasil analisis tersebut. Sementara itu, perbaikan juga terlihat pada balita dengan berat badan kurang yang mencapai 54,5 persen melalui intervensi gizi.
Ia mengingatkan, penurunan angka stunting tidak bisa sepenuhnya dikaitkan dengan keberhasilan satu program intervensi gizi tertentu saja. "Stunting merupakan persoalan jangka panjang yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kesehatan hingga kondisi lingkungan tempat tinggal," ucapnya.
Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi lintas kementerian, pemerintah daerah, serta masyarakat untuk memperkuat penanganan stunting secara menyeluruh. Evaluasi berkala dan intervensi yang semakin terarah diperlukan agar target penurunan stunting dapat tercapai tanpa mengabaikan kelompok masyarakat yang masih membutuhkan perhatian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....