IHSG Masih Berisiko Melemah, Pasar Cermati Prospek Perekonomian Domestik
- 29 Sep 2026 08:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- hari ini IHSG masih berpotensi melemah terbatas
- IHSG diprakirakan akan bergerak di rentang 6.050 di level support dan 6.250 di level resistansi
- Pelaku pasar mencermati pemaparan Bank Indonesia (BI) terkait prospek perekonomian Indonesia tahun depan
RRI.CO.ID, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan masih akan melemah dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Selasa 29 September 2026. Pada penutupan perdagangan hari Senin kemarin, IHSG turun 1,51 persen ke level 6.147.
Pelemahan IHSG juga masih disertai net sell (jual bersih) saham oleh investor asing sebesar Rp259,83 miliar. Saham yang paling banyak dijual asing adalah saham BMRI, TLKM, TINS, AMTN dan MDKA.
"Berdasarkan analisa teknikal kami, hari ini IHSG masih berpotensi melemah terbatas," kata Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Selasa, 29 September 2026. IHSG diprakirakan akan bergerak di rentang 6.050 di level support dan 6.250 di level resistansi.
Tim Analis Pilarmas mencermati pemaparan Bank Indonesia (BI) terkait prospek perekonomian Indonesia tahun depan. Pemaparan tersebut disampaikan Gubernur BI, Destry Damayanti dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR, Senin kemarin.
BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 mencapai 5,2 - 6 persen. Proyeksi itu meningkat dari 4,9-5,7 persen di tahun 2026.
"Gubernur BI Destry Damayanti menilai investasi, khususnya investasi pemerintah, perlu diperkuat untuk menopang pertumbuhan. Menurut Destry, investasi saat ini masih banyak yang berasal dari proyek yang terkait pemerintah," ujar Tim Pilarmas.
BI memprakirakan investasi akan tumbuh 6,3-7,1 persen pada 2027. BI mengharapkan investasi swasta termasuk dari Danantara meningkat, dan memperkuat perekonomian domestik.
"Proyeksi BI menunjukkan investasi akan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027. Namun, ketergantungan investasi terhadap proyek yang berkaitan dengan proyek pemerintah, menjadi tantangan," ucap Tim Pilarmas.
Dari sisi sektor riil, peningkatan investasi berpotensi mendorong belanja modal, pembangunan infrastruktur, permintaan barang modal, aktivitas industri dan konstruksi. Sementara itu, pertumbuhan ekspor yang diproyeksikan 5,9 -6,7 persen juga dapat menjadi tambahan penopang pertumbuhan.
"Secara keseluruhan, target pertumbuhan hingga 6 persen pada 2027 menunjukkan BI melihat ruang akselerasi ekonomi masih cukup besar. Tetapi realisasinya akan bergantung pada efektivitas belanja pemerintah, kemampuan menarik investasi swasta, serta implementasi proyek-proyek strategis," kata Tim Pilarmas lagi.
Menurutnya, jika investasi swasta belum menguat, pertumbuhan berisiko tetap bergantung pada stimulus pemerintah. Di sisi lain, BI menyebut kondisi perekonomian global sampai akhir tahun ini masih sedikit 'gloomy' atau suram.
Penyebabnya, konflik geopolitik yang menimbulkan ketidakpastian. Kenaikan harga minyak yang memicu inflasi dan kebijakan moneter ketat dengan suku bunga global yang tetap tinggi.
Perekonomian Indonesia saat ini masih dalam kondisi yang cukup baik. Tetapi perkembangan global perlu diwaspadai, karena akan berimbas ke perekonomian dalam negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....