Ini Penjelasan Rinci Tentang Shokuiku dan Kyushoku untuk Perkuat Program MBG
- 28 Sep 2026 22:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BGN RI menyiapkan, pendekatan baru dalam pelaksanaan Program MBG dengan mengadopsi konsep pendidikan pangan dan makan siang sekolah di Jepang.
- Jubir BGN, Tysa Novenny mengatakan, penerapan konsep tersebut menjadi salah satu terobosan yang tengah dipersiapkan BGN dalam program MBG.
- Akan ada terobosan baru dalam penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional
RRI.CO.ID, Jakarta - BGN RI menyiapkan, pendekatan baru dalam pelaksanaan Program MBG dengan mengadopsi konsep pendidikan pangan dan makan siang sekolah di Jepang. Konsep tersebut, mencakup Shokuiku sebagai pendidikan makanan dan nutrisi serta Kyushoku sebagai program makan siang di sekolah.
Jubir BGN, Tysa Novenny mengatakan, penerapan konsep tersebut menjadi salah satu terobosan yang tengah dipersiapkan BGN dalam program MBG. Perwakilan BGN juga disebut telah mendapatkan pemahaman dan pelatihan terkait penerapan program makan bergizi ala Jepang.
"Akan ada terobosan baru. Dalam penerapan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional," kata Tysa dalam keterangannya di Instagram pribadinya, dikutip Senin, 28 September 2026.
Tysa menjelaskan, Shokuiku tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga pendidikan mengenai makanan dan nutrisi. Sementara dalam praktik makan siang sekolah, konsep tersebut berjalan bersama Kyushoku.
"Shokuiku namanya, pendidikan makanan dan nutrisi. Shokuiku diterapkan dalam makan siang di sekolah bersama dengan Kyushoku," ujar Tysa.
Menurut Tysa, pendekatan tersebut membuat program makan siang tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan pangan. Penerima manfaat, juga diarahkan untuk memperoleh pengetahuan mengenai nilai gizi, proses penyediaan makanan, serta sikap menghargai makanan.
Perwakilan BGN disebut telah mendapatkan pelatihan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Pelatihan tersebut menjadi bagian dari pemahaman BGN mengenai penerapan konsep makan bergizi yang selama ini dijalankan di Jepang.
Penjelasan Shokuiku
Mengutip arsip National Institutes of Biomedical Innovation, Health and Nutrition (NIBIOHN) Jepang, Shokuiku merupakan pendidikan mengenai makanan dan nutrisi. Di Jepang, konsep tersebut ditempatkan sebagai bagian penting dalam kehidupan karena berkaitan dengan pembentukan intelektual, moral, dan pendidikan jasmani.
Shokuiku juga diposisikan sebagai upaya pembinaan masyarakat melalui pendidikan mengenai pola makan dan pemilihan asupan yang tepat. Dengan pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai makanan dan pola hidup sehat.
Konsep Shokuiku memiliki sejumlah komponen dasar, salah satunya meningkatkan kesehatan tubuh dan pikiran sekaligus memperkaya kehidupan manusia. Konsep ini, juga mendorong apresiasi serta pemahaman terhadap pola makan dan berbagai pihak yang terlibat.
Pengembangan Shokuiku juga didorong melalui gerakan sukarela di tingkat nasional. Orang tua, pendidik, dan penyedia layanan penitipan anak turut memiliki peran dalam mengenalkan pendidikan makanan kepada anak-anak.
Pemahaman mengenai persoalan pola makan juga diperkuat melalui berbagai kesempatan di rumah, sekolah, masyarakat, dan lingkungan lainnya. Caranya dengan memberikan pengalaman serta aktivitas yang berkaitan dengan makanan kepada anak-anak maupun masyarakat.
Penjelasan Kyushoku
Berbeda dengan Shokuiku, Kyushoku merujuk pada program makan siang di sekolah yang diterapkan di Jepang. Program tersebut, tidak hanya menjadi kegiatan makan bersama, tetapi juga dikaitkan dengan proses pembelajaran bagi siswa.
Dikutip dari Japan Today, makan siang sekolah di Jepang menjadi bagian dari kurikulum dan digunakan untuk mengajarkan berbagai hal kepada anak. Materinya antara lain mencakup nutrisi, kerja sama, etiket, serta penghormatan terhadap makanan.
Dalam pelaksanaannya, siswa dapat bergiliran melayani teman sekelas mereka. Mereka juga menyantap hidangan yang sama dan ikut membersihkan setelah makan sebagai bagian dari pembelajaran mengenai kebersamaan dan kesetaraan.
Menu makan siang sekolah di Jepang umumnya disusun secara seimbang dan dapat terdiri dari nasi, sup miso, salad, serta hidangan daging atau ikan. Penyusunan menu tersebut dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan gizi dan melibatkan ahli gizi berlisensi.
Konsep menghargai makanan juga menjadi bagian dari budaya makan di Jepang. Salah satunya berkaitan dengan prinsip mottainai, yaitu gagasan untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu, termasuk makanan.
Guru di sekolah turut mendorong siswa menghabiskan makanan yang disajikan. Hal ini, sebagai bagian dari pembelajaran mengenai rasa syukur dan pengenalan terhadap beragam jenis makanan.
BGN Belum Tentukan Waktu Penerapan
Meski telah mempelajari konsep tersebut, BGN belum memastikan kapan Shokuiku dan Kyushoku akan mulai diterapkan dalam program MBG. Waktu pelaksanaan masih menunggu keputusan lebih lanjut dari BGN.
"Kapan BGN akan menerapkan ini? Tunggu tanggal mainnya!" kata Tysa. Rencana tersebut menunjukkan bahwa BGN tengah mempertimbangkan pendekatan yang tidak hanya menempatkan MBG sebagai program penyediaan makanan bergizi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....