Peringati Hari Tani Nasional, Siswa TK di Depok Belajar Menanam Pangan sejak Dini

  • 25 Sep 2026 07:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Siswa TK Siti Maryam memperingati Hari Tani Nasional dengan belajar dan menanam langsung di kebun sekolah.
  • Kebun sekolah digunakan untuk mengenalkan perjalanan pangan sekaligus kerja petani kepada anak sejak dini.
  • Pembelajaran pertanian terpadu mencakup tanaman, ikan lele, ayam, hingga maggot.

RRI.CO.ID, Depok – Anak perkotaan mengenal makanan yang tersaji, tetapi belum tentu memahami perjalanan pangan hingga meja makan. Hari Tani Nasional menjadi momentum mendekatkan proses tersebut melalui kebun sekolah di Depok, Kamis, 24 September 2026.

Jarak anak dengan pertanian semakin terasa ketika ruang pertanian di perkotaan terus berkurang. Luas sawah di Depok tercatat sekitar 135 hektare pada 2021, kemudian tersisa 61 hektare pada 2024.

Penyusutan sekitar 54,8 persen tersebut membuat ruang pertanian semakin jauh dari keseharian anak-anak perkotaan. Kondisi ini turut membatasi kesempatan mereka mengenal tanaman, proses menghasilkan pangan, hingga kerja petani.

Kondisi tersebut menjadi salah satu latar peringatan Hari Tani Nasional 2026 di TK Siti Maryam. Sekolah yang berada di Kelurahan Curug, Kecamatan Bojongsari, Depok, menjadikan kebun sebagai ruang belajar anak.

Dari Lahan ke Anak

Pagi itu, anak-anak tidak sekadar diajak menyebut nama tanaman yang tumbuh di kebun sekolah. Mereka mengamati bentuk tanaman sekaligus membandingkan bagian yang tumbuh di atas dan bawah tanah.

Cabai, singkong, pisang, mangga, pepaya, dan kacang menjadi tanaman yang dapat diamati serta disentuh langsung. Pengalaman tersebut membuat tanaman tidak lagi sebatas gambar maupun materi yang mereka temui dalam buku.

Pembelajaran kemudian bergerak dari mengenali tanaman menuju proses yang diperlukan agar tanaman dapat tumbuh dan menghasilkan. Anak-anak lantas menanam singkong dan kacang untuk dirawat bersama hingga nantinya dapat dipanen.

Kepala TK Siti Maryam Sigit Subiyanto mengatakan kegiatan tersebut menjadi cara sederhana mengenalkan kerja petani melalui pengalaman langsung. Anak-anak diajak memahami terdapat proses panjang sebelum makanan akhirnya dapat mereka konsumsi.

“Anak-anak perlu mengenal bahwa di balik pangan yang mereka konsumsi ada petani yang menanam, merawat, dan bekerja keras, hasil kerja tersebut kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat. Karena itu, Hari Tani Nasional kami manfaatkan untuk menanamkan rasa syukur sekaligus penghargaan kepada petani Indonesia,” katanya.

Belajar dari Kebun

Kegiatan menanam bukan pengalaman baru bagi anak-anak karena kebun telah menjadi bagian dari pembelajaran sekolah. Aktivitas tersebut dikembangkan melalui konsep pertanian terpadu yang mengenalkan berbagai proses kepada anak.

Selain tanaman sayuran, anak-anak juga diperkenalkan dengan pemeliharaan ikan lele, ayam, dan maggot. Hasilnya pada kesempatan tertentu digunakan dalam kegiatan cooking class atau memasak bersama.

Aktivitas berkebun biasanya berlangsung pada pagi hari sebelum anak mengikuti pembelajaran di kelas dan sarapan. Dengan pola tersebut, tanaman menjadi bagian pengalaman sehari-hari dan bukan sekadar materi dalam kegiatan khusus.

Guru Kelompok Bermain sekaligus Koordinator Hari Tani Nasional Aprilianti Putri Hermawan mengatakan pembelajaran tidak sebatas mengenalkan tanaman. Anak-anak juga diperkenalkan dengan proses dan perawatan yang diperlukan untuk memperoleh suatu hasil.

“Yang ingin kami tanamkan bukan hanya pengetahuan tentang tanaman, anak-anak belajar bahwa untuk menghasilkan sesuatu dibutuhkan proses dan perawatan. Dari sana mereka belajar menghargai makanan, alam, dan orang-orang yang bekerja menghasilkan pangan,” katanya.

Pengalaman dari kebun kemudian bertemu dengan kebiasaan anak ketika mengikuti kegiatan makan bersama di sekolah. Saat sarapan, guru mengajak mereka bersyukur sekaligus mengenalkan perjalanan panjang setiap makanan yang tersedia.

Dari Sekolah ke Rumah

Sebelum peringatan Hari Tani Nasional, anak-anak mendapat tugas membuat topi petani bersama orang tua. Topi dibuat menggunakan karton atau kardus bekas, kemudian dihias dan dikenakan selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada orang tua untuk melanjutkan pengalaman belajar anak di luar sekolah. Aktivitas menanam dan merawat tanaman diharapkan tidak berhenti ketika anak meninggalkan lingkungan sekolah.

Wali murid Nur Kholisoh Labibah mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan melalui pengalaman langsung. Ia melihat ketertarikan anak untuk berkebun juga mulai terbawa ketika berada di rumah.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang mengenalkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini melalui menanam dan merawat tanaman. Saya melihat anak saya menjadi lebih bersemangat berkebun di rumah, dari kegiatan seperti ini, anak juga belajar menghargai alam dan mengenal jasa petani,” katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi bagian dari cara anak memandang makanan dan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak juga diharapkan memahami bahwa lingkungan di sekitarnya membutuhkan perhatian dan perawatan bersama.

Menanam Syukur

Bagi anak-anak, memahami perjalanan pangan tidak harus dimulai melalui angka produksi maupun luas lahan pertanian. Pemahaman dapat tumbuh melalui tanaman yang dilihat, tanah yang disentuh, serta makanan yang disantap setiap hari.

Setiap butir nasi melewati perjalanan panjang sebelum akhirnya tersaji sebagai makanan di meja. Petani menanam dan merawat padi sebelum hasil panen diolah serta berpindah melalui berbagai tangan.

Sebagian besar perjalanan tersebut tidak terlihat secara langsung oleh anak-anak yang tumbuh di wilayah perkotaan. Mereka umumnya menerima pangan pada tahap akhir ketika makanan sudah siap untuk dikonsumsi.

Kebun sekolah kemudian menghadirkan sebagian kecil perjalanan tersebut dalam ruang yang dekat dengan keseharian anak. Mereka melihat tanaman tumbuh sekaligus memahami bahwa suatu hasil tidak diperoleh secara instan.

Bibit singkong yang ditanam hari itu bahkan belum memberikan hasil apa pun kepada mereka. Anak-anak perlu kembali melihat, merawat, menunggu, kemudian menyaksikan sendiri hasil tanaman tersebut ketika waktunya tiba.

Dari proses sederhana itulah penghargaan kepada petani diperkenalkan bukan sekadar melalui peringatan Hari Tani Nasional. Anak belajar menanam, merawat, menunggu, serta memahami pangan merupakan hasil kerja banyak tangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....