Kemenhub Perkuat Kesiapan Awak Kapal PELNI Hadapi Situasi Darurat

  • 22 Sep 2026 15:33 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenhub memperkuat kesiapan awak kapal PELNI melalui Workshop Safety Training untuk menghadapi kondisi darurat
  • Pelatihan berlangsung di atas KM Bukit Raya selama pelayaran rute Jakarta–Kijang pada 16-18 September 2026
  • Pelatihan menekankan kompetensi awak, koordinasi saat keadaan darurat, serta perlindungan dan keselamatan penumpang

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perhubungan memperkuat kesiapan awak kapal PELNI menghadapi kondisi darurat melalui pembekalan keselamatan. Kegiatan tersebut diarahkan meningkatkan kompetensi awak kapal sekaligus memperkuat budaya keselamatan dalam pelayanan angkutan laut.

Pembekalan keselamatan tersebut dilakukan melalui Workshop Safety Training yang digelar PT PELNI di atas KM Bukit Raya. Pelatihan berlangsung selama pelayaran rute Jakarta–Kijang pada 16 hingga 18 September 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat tema ‘Kesiapan Awak Kapal dalam Menghadapi Situasi Darurat’ sebagai bagian penguatan kemampuan menghadapi kondisi darurat. Pelaksanaan kegiatan juga menjadi upaya meningkatkan kesiapan awak dalam memberikan pelayanan angkutan laut yang aman.

Pelatihan membahas pemahaman mengenai tugas serta tanggung jawab awak ketika menghadapi keadaan darurat di kapal. Koordinasi antara nakhoda, perwira, dan seluruh awak juga diperkuat agar proses penyelamatan berlangsung cepat serta terkoordinasi.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Samsuddin menekankan keselamatan pelayaran merupakan rangkaian sistem yang saling berkaitan. Menurutnya, kapal yang laik membutuhkan awak kompeten, peralatan andal, prosedur jelas, serta dukungan manajemen perusahaan.

“Karena itu, setiap pihak harus memahami tanggung jawabnya dan menjaga koordinasi. Melalui Safety Training ini kita menguji kemampuan seluruh unsur untuk bekerja bersama,” ujar Samsuddin di Jakarta, Minggu, 20 September 2026.

Samsuddin mengatakan peralatan dan prosedur keselamatan harus didukung kemampuan awak mengoperasikannya secara tepat. Setiap awak juga harus mengetahui lokasi penugasan, jalur komunikasi, dan tanggung jawab berdasarkan daftar keadaan darurat atau muster list.

Dalam menghadapi keadaan darurat, awak kapal penumpang tidak hanya dituntut menangani sumber bahaya secara tepat. Awak juga harus mampu memberikan arahan jelas dan mengarahkan penumpang menuju lokasi aman.

Kesiapan tersebut perlu memperhatikan penumpang yang membutuhkan bantuan selama proses penanganan keadaan darurat. Kelompok tersebut mencakup anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, dan penumpang dengan keterbatasan mobilitas.

“Dalam keadaan darurat, setiap awak harus mengetahui apa yang harus dilakukan, kepada siapa melapor, dan bagaimana membantu penumpang. Karena itu, latihan harus menjadi sarana untuk menguji kesiapan nyata, menemukan kekurangan, dan memastikan perbaikannya ditindaklanjuti,” ujar Samsuddin.

Penguatan kemampuan awak kapal perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan manajemen perusahaan dan jajaran kapal. Evaluasi juga diperlukan untuk menilai pemahaman prosedur, koordinasi personel, kesiapan peralatan, serta berbagai kendala latihan.

Kementerian Perhubungan mendorong kolaborasi regulator dan operator untuk memperkuat budaya keselamatan dalam pelayaran secara berkelanjutan. Melalui kegiatan tersebut, awak kapal PELNI diharapkan semakin siap memberikan perlindungan dan pelayanan aman kepada penumpang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....