Desalinasi Air Laut, Mampukah Jadi Solusi Kekeringan di Jakarta?

  • 22 Sep 2026 17:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • DPRD Jakarta mengusulkan desalinasi air laut sebagai solusi menghadapi fenomena El Niño yang melanda sejumlah wilayah Jakarta.
  • Desalinasi adalah proses membuat air tawar dari air asin menggunakan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO) yang telah terbukti efektif.
  • Teknologi SWRO bukan merupakan inovasi baru, telah dioperasikan sejak tahun 2022 oleh PAM Jaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kepulauan Seribu.

RRI.CO.ID, Jakarta – Fenomena El Nino melanda sejumlah wilayah di Jakarta, DPRD Jakarta mengusul langkah desalinasi air laut. Menurut KBBI, desalinasi merupakan proses membuat air tawar dari air asin.

Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, mengungkap bahwa langkah ini membutuhkan teknologi Seawater Reverse Osmosis (SWRO). Teknologi ini bukan merupakan barang baru, melainkan sudah dioperasikan sejak tahun 2022 untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Kepulauan Seribu.

Menurut Arief, desalinasi menjadi pilihan untuk mengantisipasi kekurangan air di Jakarta. Namun, ia mengatakan teknologi ini membutuhkan biaya yang cukup mahal.

“Kita mengandalkan hampir 85 persen air dari Jatiluhur. Sisanya dari Kali Cisadane di Tangerang, dan hanya lima 5% dari 13 sungai di Jakarta.” kata Arief pada wawancara RRI Pro 3, Selasa, 22 September 2026.

Arief mengungkap bahwa biaya dasar produksi air lewat desalinasi mencapai Rp60 ribu per meter kubik. Angka itu jauh di atas tarif termurah pelanggan PAM Jaya yang hanya Rp1.000 per meter kubik.

Ia memberikan contoh salah satu negara, yaitu Singapura. "Singapura itu aja mencoba mengurangi desalinasi walaupun menjadi pilihan yang tidak bisa dihindari, karena kekurangan juga sumber air baku, "ujar Arief.

Selisih biaya produksi itu selama ini ditutup lewat subsidi silang dari internal perusahaan. Arief menyebut PAM Jaya berupaya untuk tidak melibatkan APBD untuk proyek ini.

Sebagai jalan tengah, PAM Jaya tengah mengkaji pembangunan pipa bawah laut dari Jakarta menuju Kepulauan Seribu. Opsi ini dinilai mampu menekan biaya produksi SWRO yang dinilai selama ini menjadi tantangan.

Meski begitu, Arief tetap berharap masyarakat dapat menghemat penggunaan air bersih. Karena biaya yang dikeluarkan untuk membeli air baku cukup mahal.

Sebelumnya, peneliti BRIN menyatakan bahwa Jakarta menjadi daerah paling rentan dalam hotspot defisit air nasional. Terdapat tiga kawasan yang dinilai paling rawan kekeringan air, yakni Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Timur pinggiran yang belum sepenuhnya terlayani PAM Jaya.

Penulis: Nikita Yunistia Maryam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....