Arus Bawah Laut Berubah Cepat, Begini Perjuangan Penyelam Basarnas Masuk KM Virgo

  • 22 Sep 2026 11:10 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Tim penyelam Basarnas Special Group (BSG), harus berpacu dengan perubahan arus bawah laut untuk bisa masuk ke badan KM Virgo Transport 8.
  • Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana mengatakan, kondisi laut teduh tidak berlangsung lama.
  • Saat arus bawah laut teduh, gelombang mulai kecil, waktu itulah yang dimanfaatkan oleh tim penyelam.

RRI.CO.ID, Jakarta - Tim penyelam Basarnas Special Group (BSG), harus berpacu dengan perubahan arus bawah laut untuk bisa masuk ke badan KM Virgo Transport 8. Mengingat, kesempatan penyelaman hanya muncul ketika arus mulai teduh dan gelombang mengecil.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banjarmasin, I Putu Sudayana mengatakan, kondisi laut teduh tidak berlangsung lama. Karena itu, penyelam harus segera turun ketika kecepatan arus berada pada kondisi yang memungkinkan operasi penyelaman dilakukan.

“Saat arus bawah laut teduh, gelombang mulai kecil, waktu itulah yang dimanfaatkan oleh tim penyelam. Segera melaksanakan penyelaman, dan itu waktunya tidak berlangsung lama,” kata Putu dalam konferensi pers perkembangan operasi SAR hari kesembilan di Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin, dikutip Selasa, 22 September 2026.

Putu mengungkapkan, tim menggunakan kesempatan tersebut ketika kecepatan arus berada di bawah 2,5 knot. Kondisi itu, memungkinkan penyelam BSG masuk ke badan kapal dan melakukan penyisiran untuk mencari korban.

“Dengan berkejaran dengan waktu. Namun kita bisa memaksimalkan waktu yang ada sehingga beberapa korban kita berhasil evakuasi,” ucap Putu.

Dalam operasi SAR hari kesembilan, ia menyebutkan, penyelam berhasil menemukan dan mengevakuasi lima jenazah dari dalam kapal tenggelam. Namun, proses pencarian di dalam bangkai kapal bukan tanpa risiko bagi para penyelam.

Bagian bawah kapal, kata Putu, menjadi salah satu titik paling sulit dijangkau. Karena, kondisi dan kestabilan bangkai kapal tidak dapat dipastikan ketika penyelam mulai memasuki kompartemen di bagian tersebut.

“Paling sulit dan paling berbahaya dijangkau adalah kompartemen yang bagian bawah. Di sanalah yang paling sulit dan berisiko karena begitu kita masuk ke bagian bawah kapal, kita tidak tahu kestabilan kapal saat ini,” ujar Putu.

Risiko lain, Putu menuturkan, muncul ketika penyelam harus memecahkan kaca untuk membuka akses menuju bagian tertentu dari kapal. Tekanan air dan kondisi kaca yang pecah, dapat menimbulkan dorongan kuat sehingga berpotensi membahayakan penyelam.

“Begitu kaca pecah, ini akan ada dorongan yang luar biasa. Ini akan membahayakan untuk penyelam sendiri,” kata Putu.

Putu menegaskan, keselamatan penyelam tetap menjadi perhatian utama selama proses pencarian berlangsung. Tim harus memperhitungkan perubahan arus, kondisi gelombang, kestabilan kapal hingga risiko ketika memasuki ruang-ruang sempit dan tersekat di dalam bangkai kapal.

Hingga Senin, (21/9/2026) pukul 22.00 WITA, Basarnas mencatat 123 orang ditemukan dari total 243 orang dalam manifes KM Virgo Transport 8. Rinciannya terdiri atas 108 orang selamat dan 15 orang meninggal dunia, sedangkan 120 orang lainnya masih dalam proses pencarian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....