Ketahanan Nasional Indonesia Hadapi Ancaman Asimetris di PBB
- 21 Sep 2026 23:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketahanan nasional menekankan kekuatan Indonesia sendiri agar mampu beradaptasi ketika menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, serta berbagai gangguan.
- Ancaman kini bersifat asimetris karena dapat melibatkan banyak aktor, termasuk pihak non-negara maupun negara saat ini.
- Ketahanan perlu dibangun melalui penguatan masyarakat, kesiapan aparat, serta kemampuan mendeteksi potensi kerentanan sejak dini terus.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat Intelijen dan Kajian Stratejik Universitas Indonesia (UI), Dr. Stanislaus Riyanta, menguraikan arti ketahanan nasional Indonesia menghadapi ancaman lintas batas. Menurutnya, ketahanan nasional menekankan kekuatan Indonesia sendiri agar mampu beradaptasi ketika menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, serta berbagai gangguan.
“Ketahanan itu semacam kebalikan dari kerentanan. Jadi kita melihat potensi diri kemudian menguatkannya,” kata Riyanta kepada PRO3 RRI.
Riyanta menilai ancaman kini bersifat asimetris karena dapat melibatkan banyak aktor, termasuk pihak non-negara maupun negara saat ini. Menurutnya, kompleksitas ancaman membuat negara lebih sulit mengantisipasi sumber persoalan jika hanya berfokus pada ancamannya saja tersebut.
“Ketika kita fokus pada ketahanan, apapun ancamannya kita memikirkan bagaimana kita bertahan. Dan tetap adaptif,” ujarnya.
Riyanta berpandangan ketahanan perlu dibangun melalui penguatan masyarakat, kesiapan aparat, serta kemampuan mendeteksi potensi kerentanan sejak dini terus. Menurutnya, keterbukaan informasi juga perlu dikelola karena informasi provokatif dapat mengeksploitasi kerentanan sosial dan memicu perpecahan masyarakat lebih.
“Informasi harus difilter, ketika sifatnya mengeksploitasi kerentanan harus dicegah. Sedangkan informasi penguat solidaritas perlu disebarluaskan,” ucapnya.
Riyanta menilai pengalaman Indonesia menjaga keberagaman dapat dibawa sebagai contoh ketahanan nasional dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara global. Kehadiran Indonesia di PBB, menurutnya, juga dapat menawarkan tangible solutions atau kerja sama transisi energi berkeadilan (JETP).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....