Pasokan Gas Industri Berkurang 78 Persen, Kemenperin Soroti Dampaknya
- 18 Sep 2026 16:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dirjen IKFT Kementerian Perindustrian melaporkan pengurangan pasokan gas industri mencapai 78 persen yang menjadi keluhan berkelanjutan dari sejumlah perusahaan industri.
- Pengurangan pasokan gas tersebut berdampak signifikan terhadap daya saing dan keberlangsungan produksi perusahaan-perusahaan industri di Indonesia.
- Meskipun menghadapi tantangan pasokan gas, sektor industri masih mencatat pertumbuhan positif sebesar 8,8 persen pada kuartal kedua tahun 2024 dengan potensi pertumbuhan yang besar.
RRI.CO.ID, Karawang – Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier menyoroti pengurangan pasokan gas industri hingga 78 persen. Ia menyebut pengurangan pasokan tersebut menjadi keluhan yang terus disampaikan sejumlah perusahaan kepada pemerintah.
Taufiek menilai kondisi tersebut berpengaruh terhadap daya saing dan keberlangsungan produksi sejumlah perusahaan industri. Padahal, menurutnya, industri memiliki potensi pertumbuhan besar dengan mencatat pertumbuhan 8,8 persen pada kuartal kedua tahun ini.
“Hari ini juga saya laporkan masalah gas lagi kembali ini, jadi dikurangin 78 persen. Jadi tadi banyak yang mengeluh ke kita dan surat-surat sudah numpuk,” ucap Dirjen Taufiek saat mendampingi Komisi VII DPR RI kunjungan kerja spesifik ke PT M-Class Industry, Karawang, Jawa Barat, Jumat, 18 September 2026.
“Saya cuma berpikir ini sampai kapan masalah ini kok berulang terus gitu loh. Jadi ini sangat menentukan competitiveness kita.”
Taufiek menilai kepastian pasokan gas menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing industri nasional. Menurutnya, pelaku industri membutuhkan harga gas kompetitif sekaligus pasokan yang berjalan secara lancar.
Menurut Taufiek, saat ini persoalan pasokan gas tersebut mulai memengaruhi operasional sejumlah perusahaan industri. Ia menyebut terdapat perusahaan yang mengurangi penggunaan mesin produksi akibat kondisi tersebut.
“Banyak perusahaan-perusahaan yang sekarang ini sudah mesinnya yang tadinya tiga dimatikan jadi dua. Karena ini juga akan berdampak terhadap ekonomi kita,” ucapnya.
Taufiek mengatakan pemerintah akan terus mendorong penyelesaian persoalan pasokan gas bersama pihak terkait. Ia berharap Komisi VII DPR RI juga dapat menyampaikan persoalan tersebut kepada Perusahaan Gas Negara (PGN) untuk ditindaklanjuti.
“Kita berharap banyaklah dari Komisi VII juga nanti bisa menyampaikan ke apa dipanggil PGN-nya. Kenapa ini kok berulang, kemarin sudah agak dingin, sekarang begitu lagi,” ujar Taufiek.
Selain persoalan energi, Taufiek juga menyoroti peluang industri genteng melalui program pemerintah tiga juta rumah. Ia berharap kebutuhan genteng dalam program tersebut dapat dipenuhi industri dalam negeri.
“Jangan sampai nanti program ini diisi barang-barang impor, padahal ini sudah kita sudah kuat. Untuk mensuplai mereka semua, dan juga ini tenaga kerja di sektor ini cukup besar,” ucapnya.
Taufiek juga menyebut industri genteng tersebut memiliki kandungan bahan baku dalam negeri yang cukup tinggi. Namun, beberapa bahan pendukung seperti pewarna dan glazir masih membutuhkan pasokan dari luar negeri.
Kemenperin menilai penguatan faktor input industri dapat membantu meningkatkan daya saing nasional. Pemerintah juga menyatakan akan terus mendampingi industri agar berkembang dan menyerap banyak tenaga kerja.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....