Sarana Terbatas, Aktivitas Pembelajaran Siswa di tengah Asap Karhutla Terhambat

  • 18 Sep 2026 16:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Asap karhutla mengganggu aktivitas belajar mengajar dan memerlukan penyesuaian pola pembelajaran di berbagai wilayah.
  • Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat Kamius Jupaidi menyatakan bahwa pembelajaran disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah berdasarkan ketersediaan infrastruktur.
  • Wilayah dengan jaringan internet stabil dapat melaksanakan pembelajaran menggunakan platform Zoom dan pengiriman tugas secara daring untuk mengatasi keterbatasan sarana.

RRI.CO.ID, Jakarta - Asap karhutla tak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga berdampak pada kegiatan belajar dan mengajar. Keterbatasan sarana menjadi salah satu tantangan ketika pembelajaran harus dilakukan dari luar ruang kelas.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutai Barat, Kamius Jupaidi, menyebut pola pembelajaran disesuaikan dengan kondisi setiap wilayah. Wilayah dengan jaringan yang stabil dapat melaksanakan pembelajaran menggunakan Zoom dan pengiriman tugas secara daring.

Kondisi tersebut membuat perangkat telepon seluler menjadi salah satu sarana yang digunakan untuk menjaga pembelajaran tetap berlangsung. Namun, sekolah dengan keterbatasan jaringan tentu tidak bernasib sama.

Pembelajaran daring akan sulit dilakukan dengan kondisi tersebut. Kamius mengatakan tugas tetap diberikan meski secara manual.

"Pembelajaran di daerah yang memiliki jaringan stabil dilakukan melalui Zoom, dan tugas-tugas yang dikirimkan secara online. Bagi daerah yang jaringannya tidak stabil, siswa diberikan tugas secara manual, pengganti dari pembelajaran daring," katanya dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Keterbatasan perangkat turut menyulitkan siswa dan sekolah. Sekolah harus mengondisikan siswa tanpa perangkat agar mereka dapat belajar bersama siswa yang memiliki sarana pendukung.

Pembelajaran jarak jauh juga membuat orang tua menghadapi tantangan baru dalam mendampingi anak belajar dari rumah. Orang tua perlu menjalankan peran ganda, sebagai orang tua dan guru.

"Ada beberapa hal yang menjadi hambatan bagi orang tua. Orang tua juga berperan sebagai seorang guru di rumah karena mereka yang akan mendampingi, yang mengikuti pembelajaran," ujarnya.

Selain itu, tidak semua siswa mempunyai telepon seluler. Sebagian siswa masih harus menggunakan gawai milik orang tua, sehingga menyulitkan orang tua yang harus bekerja.

Di tengah kondisi asap yang pekat, Kamius meminta sekolah tetap memperhatikan kesehatan siswa dan guru. Kamius mendorong sekolah untuk berkoordinasi dengan perangkat kampung, kepala desa, dan aparat setempat selama pembelajaran berlangsung.

"Beberapa waktu yang lalu, kami sudah melakukan Zoom dengan seluruh kepala sekolah. Kami menghimbau mereka untuk berkoordinasi, baik dengan komite dan orang tua, kemudian dengan perangkat kampung dan aparat setempat," ucapnya.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan pemerintah tetap memenuhi hak belajar murid. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, mendorong satuan pendidikan menyesuaikan pembelajaran.

"Keselamatan dan kesehatan anak adalah prioritas, namun, belajar dari rumah bukan berarti libur. Sekolah tetap wajib memastikan hak belajar setiap murid terpenuhi melalui moda pembelajaran yang paling sesuai dengan kondisi daerah," katanya, dikutip dari Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Ia juga mengarahkan satuan pendidikan memilih metode pembelajaran yang memungkinkan siswa tetap belajar selama kondisi asap berlangsung. Penyesuaian tersebut tetap mengutamakan keselamatan siswa dan guru di wilayah yang terdampak karhutla. (Shafa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....