Pengamat Optimistis Polri Mampu Tangani Wacana Black September

  • 18 Sep 2026 13:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Analis politik Boni Hargens menilai aparat keamanan Indonesia berpengalaman menangani wacana Black September yang beredar luas di masyarakat.
  • Black September merujuk pada kekhawatiran mengenai kemungkinan aksi yang dapat mengganggu stabilitas politik pada bulan September karena sarat dengan momen-momen penting bagi Indonesia.
  • Masyarakat perlu menyikapi wacana Black September secara proporsional tanpa menimbulkan kecemasan sosial yang berlebihan atau unnecessary panic.

RRI.CO.ID, Jakarta - Analis politik dan isu intelijen Boni Hargens menilai aparat keamanan berpengalaman menangani wacana Black September yang beredar luas. Menurutnya, masyarakat perlu menyikapi wacana tersebut secara proporsional tanpa menimbulkan kecemasan sosial yang berlebihan.

Menurut Boni, Black September merujuk pada kekhawatiran mengenai kemungkinan aksi yang disebut dapat mengganggu stabilitas politik pada September. “Bulan September sarat dengan momen-momen penting Indonesia, itulah yang menjadi daya tarik bagi pihak-pihak tertentu untuk memanfaatkannya,” ujar Boni kepada media, Jumat 18 September 2026.

Boni mengatakan, September memiliki sejumlah peristiwa sejarah yang memiliki resonansi emosional dan politik bagi masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut, menurut dia, dapat dimanfaatkan untuk membangun narasi tertentu.

Boni mencontohkan Tragedi Semanggi II yang berlangsung pada 23-24 September 1999. Komnas HAM mencatat peristiwa Semanggi II sebagai salah satu kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang telah diselidiki.

“Salah satu contoh adalah Tragedi Semanggi II (24 September 1999) yang merupakan aksi demonstrasi mahasiswa berskala besar menolak RUU PKB yang direspons represif oleh aparat. Menewaskan beberapa mahasiswa termasuk Yap Yun Hap dari Universitas Indonesia,” ujar Boni.

Boni menilai, penggunaan nama Black September berpotensi memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Ia meminta masyarakat menyikapi wacana tersebut secara proporsional.

Menurut Boni, aparat keamanan memiliki pengalaman dalam menangani berbagai situasi yang berpotensi mengganggu keamanan dan ketertiban. "Alasan kedua adalah rasa takut yang justru memperkuat gerakan itu sendiri," katanya.

"Ketakutan yang berlebihan terhadap wacana Black September justru memperkuat efek dari gerakan itu sendiri. Narasi ketakutan adalah bagian dari strategi destabilisasi yang ingin dicapai para pelakunya,” lanjut Boni menambahkan.

Boni mengatakan, masyarakat tidak perlu mengabaikan wacana tersebut. Namun juga tidak perlu meresponsnya dengan kecemasan berlebihan.

“Meski wacana ini memanfaatkan momen historis, bukan indikasi ancaman yang tak tertanggulangi. Percayalah, Polri, BIN, dan TNI memiliki kapabilitas dan pengalaman yang terbukti dalam menjaga keamanan nasional,” kata Boni.

Boni menambahkan, stabilitas nasional merupakan tanggung jawab bersama antara aparat keamanan dan masyarakat. Menurutnya, masyarakat perlu menjaga ketenangan serta menghindari penyebaran narasi yang belum terverifikasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....