Wamen ESDM Yuliot Ungkap Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Energi di Forum G20
- 18 Sep 2026 12:11 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi
- Program B50 diproyeksikan menggantikan impor solar 310 ribu barel per hari, menghemat hampir USD10 miliar, dan membuka lebih dari 2 juta lapangan kerja
- RUPTL 2025-2034 menargetkan tambahan pembangkit 69,5 gigawatt, dengan 76 persen kapasitas berasal dari energi terbarukan
RRI.CO.ID, Texas - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memperkuat ketahanan energi nasional menghadapi gangguan pasokan minyak global. Pemerintah juga mendorong diversifikasi energi dan transisi berkeadilan sesuai kondisi serta kebutuhan nasional.
Ketahanan energi menjadi perhatian dalam forum G20 seiring gangguan pasokan minyak akibat konflik geopolitik yang memengaruhi distribusi. Risiko terhadap jalur distribusi dan infrastruktur energi turut meningkatkan ketidakpastian pasokan serta tekanan harga komoditas energi.
Yuliot menyampaikan pandangan tersebut dalam G20 Energy Abundance Ministerial Meeting di Houston, Texas, Amerika Serikat. Pertemuan berlangsung pada 14-16 September 2026 dan menjadi bagian agenda pembahasan energi dalam forum G20.
"Indonesia mendukung hak berdaulat setiap negara untuk menentukan jalur energinya berdasarkan kondisi nasionalnya. Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju ‘Net Zero Emissions’ pada 2060 atau lebih cepat," kata Yuliot pada Selasa waktu setempat, 15 September 2026.
Indonesia memperkuat ketahanan energi dengan meningkatkan produksi minyak dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan impor. Konsumsi BBM nasional sekitar 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari.
Pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari dan membuka peluang investasi pada 118 wilayah kerja migas. Pengembangan tersebut didukung skema fiskal yang menarik guna mendorong peningkatan produksi energi nasional.
Diversifikasi energi juga dilakukan melalui pengembangan energi baru dan terbarukan serta pemanfaatan sumber daya dalam negeri. Salah satu programnya adalah B50, yaitu penggunaan solar yang dicampur bahan bakar nabati hingga mencapai 50 persen.
Program B50 diproyeksikan mampu mensubstitusi kebutuhan impor solar sebanyak 310 ribu barel per hari dan menghemat hampir USD10 miliar. Program tersebut juga membuka peluang lebih dari 2 juta lapangan kerja melalui pengembangan bahan bakar nabati.
Pada sektor ketenagalistrikan, pemerintah memperkirakan permintaan listrik Indonesia tumbuh sekitar 5,3 persen setiap tahun. RUPTL 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 76 persen berasal dari energi terbarukan.
Pengembangan kapasitas tersebut membutuhkan investasi sekitar USD180 miliar dan membuka sekitar 73 persen kapasitas baru bagi produsen listrik independen. Pemerintah juga mendorong pengembangan 100 GWp Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk menggantikan pembangkit diesel pada sistem utama.
"Kami telah membenahi iklim investasi di dalam negeri. Kami mempermudah prosedur berusaha," kata Yuliot.
Indonesia menilai kebijakan energi tidak dapat diseragamkan karena setiap negara memiliki kondisi lokal dan kemampuan berbeda. Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam clean cooking dengan mempertimbangkan keterjangkauan serta prioritas pembangunan nasional.
"G20 harus mendorong pendekatan yang seimbang yang memajukan ketahanan energi, keterjangkauan, aksesibilitas, dan keberlanjutan. Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk membangun masa depan energi global yang inklusif, berkelanjutan, dan aman," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....