Ekspor Florikultura Tembus 96 Negara, Barantin Bidik Biodiversitas
- 17 Sep 2026 15:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat produk florikultura Indonesia telah menjangkau 96 negara tujuan sepanjang 2026
- Maka, kekayaan biodiversitas Tanah Air dinilai menyimpan potensi ekonomi besar, menjadi bernilai tambah dan memenuhi persyaratan pasar global
RRI.CO.ID, Tangerang - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mencatat produk florikultura Indonesia telah menjangkau 96 negara tujuan sepanjang 2026. Maka, kekayaan biodiversitas Tanah Air dinilai menyimpan potensi ekonomi besar, menjadi bernilai tambah dan memenuhi persyaratan pasar global.
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding mengatakan kekayaan tanaman Indonesia tidak cukup hanya dinikmati dari sisi keindahan. Potensi tersebut perlu dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi petani, pelaku usaha, hingga industri kreatif.
"Keindahan tanaman harus mampu kita transformasikan menjadi nilai tambah dan daya saing Indonesia. Florikultura bukan sekadar hobi, melainkan bagian penting dari ekonomi hijau, industri kreatif, inovasi, penyerapan lapangan kerja, dan peluang ekspor nasional," ujar Karding saat membuka Floriculture Indonesia International (FLOII) Expo 2026 di ICE BSD, Tangerang, Kamis 17 September 2026.
Menurut Karding, kolaborasi antarpihak menjadi penting agar kekayaan biodiversitas yang dimiliki Indonesia dapat dikembangkan menjadi produk yang mampu bersaing di pasar dunia.
Data sistem layanan karantina Best Trust per 14 September 2026 menunjukkan sejumlah komoditas florikultura Indonesia telah masuk pasar internasional. Komoditas tersebut antara lain bunga krisan, bibit krisan, bibit lilium, bibit Saintpaulia, tanaman akuarium, hingga berbagai jenis bibit tanaman hias.
Sepanjang 1 Januari hingga 14 September 2026, nilai ekspor florikultura yang tercatat mencapai Rp3,51 triliun dengan volume 59,6 juta komoditas dan menjangkau 96 negara. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 nilai ekspor florikultura tercatat Rp4,42 triliun dengan volume 93,9 juta komoditas yang dikirim ke 95 negara.
Data tersebut memperlihatkan luasnya jangkauan pasar produk florikultura Indonesia. Namun, membuka pasar internasional tidak cukup hanya dengan menghasilkan tanaman yang memiliki nilai estetika dan ekonomi.
Komoditas juga harus memenuhi persyaratan fitosanitari yang ditetapkan negara tujuan. Ekspor Jalan, Biodiversitas Tetap Dijaga
Di sinilah Barantin menempatkan dua peran yang berjalan beriringan, yakni menjaga keamanan hayati atau biosecurity sekaligus memfasilitasi perdagangan komoditas pertanian. Pengawasan karantina diperlukan untuk mencegah masuk, keluar, dan tersebarnya organisme pengganggu tumbuhan karantina melalui lalu lintas tanaman dan produk tumbuhan.
Pada saat bersamaan, pemenuhan persyaratan karantina menjadi bagian penting agar produk florikultura Indonesia dapat diterima di negara tujuan. Karena itu, Karding menilai keberhasilan ekspor bukan semata-mata diukur dari banyaknya tanaman yang dikirim.
Kepercayaan negara tujuan terhadap sistem dan produk Indonesia juga harus dipertahankan. "Ketika tanaman Indonesia terbang ke luar negeri, yang kita bawa bukan sekadar komoditasnya, namun juga nama baik, reputasi, dan kepercayaan pasar dunia terhadap Indonesia," kata Karding.
Ditanbahkan Steering Comittee FLOII, Rustika Herlambang, tak hanya menampilkan keindahan, FLOII Expo juga menunjukkan tingginya nilai ekonomi industri tanaman hias. Salah satu koleksi yang mendapat perhatian tahun ini adalah kehadiran Bucephalandra, Aroid, dan Monstera yang memiliki nilai taksiran tinggi dan unik.
"Kehadiran tanaman ini juga menjadi bukti bahwa kreativitas genetik, ketekunan budidaya, dan kelas estetika dapat menghasilkan value creation yang luar biasa dalam industri florikultura. Jadi kita bisa lihat keindahan tanaman ini dan setiap tanaman itu hanya ada satu, dia tidak pernah ada duanya," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....