Gempa Terasa Sampai Tiga Wilayah Kabupaten Bandung, Ini Penjelasan Ahli

  • 17 Sep 2026 11:56 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Rentetan gempa di selatan Kabupaten Bandung terasa hingga Pangalengan dipengaruhi faktor seperti kedalaman dan kondisi geologi lokal.
  • Kedalaman pusat gempa yang dangkal membuat energi seismik yang dilepaskan relatif dekat dengan permukaan.
  • Endapan tanah lunak juga dapat memperkuat guncangan melalui proses resonansi meski magnitudo gempa kecil.

RRI.CO.ID, Jakarta - Rentetan gempa di selatan Kabupaten Bandung masih terjadi hingga Kamis, 17 September 2026. Guncangan tersebut terasa hingga Pangalengan dan sejumlah wilayah sekitar karena kondisi geologi setempat.

Pada Kamis pukul 06.21.05 WIB, BMKG mencatat, gempa Magnitudo 2,7 dengan kedalaman 4 kilometer yang berpusat sekitar 27 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung. Gempa dirasakan dengan intensitas III Modified Mercalli Intensity (MMI) di Pangalengan, Talegong, dan Cisewu.

Pakar Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan rangkaian tersebut termasuk aktivitas gempa swarm. Fenomena ini merupakan rentetan gempa kecil yang terjadi berulang dalam kawasan dan periode tertentu.

"Gempa swarm itu ketika kerentetan gempa terjadi terus menerus dalam suatu kawasan," kata Daryono dalam perbincangan bersama Pro 3 RRI, Kamis, 17 September 2026. Ia menjelaskan, gempa swarm tidak memiliki satu gempa utama yang dominan dalam rangkaiannya.

Daryono mengatakan sebagian besar gempa swarm terjadi dengan magnitudo kecil. Ia menyebut gempa yang terjadi di kawasan selatan Bandung belum mencapai magnitudo empat berdasarkan pemantauan.

Meski magnitudonya kecil, gempa dangkal di kawasan tersebut dapat menghasilkan guncangan yang cukup kuat di permukaan. Kondisi ini diakibatkan energi seismik yang dilepaskan relatif dekat dengan permukaan.

“Magnitudo kecil tidak selalu identik dengan guncangan yang tidak terasa,” katanya. Selain itu, guncangan juga tetap bisa terasa lebih kuat di lokasi tertentu.

Daryono menjelaskan kondisi geologi lokal berupa endapan tanah lunak dapat memicu proses resonansi. Karena itu, gempa dengan kekuatan kecil tetap dapat dirasakan cukup kuat..

"Guncangan-guncangan yang dirasakan masyarakat itu tidak hanya ditentukan oleh magnitudo dan jarak. Kondisi geologi lokal atau tanah lunak yang ada di daerah gempa itu juga ikut berperan membesarkan gempa itu, jadi, terjadi resonansi," ujarnya.

Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak merespons rangkaian gempa tersebut dengan kepanikan. Namun, aktivitas kegempaan juga tetap perlu dipantau berdasarkan data dan perkembangan terbaru.

BMKG menyarankan masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dan mewaspadai kemungkinan gempa susulan. Hingga kini, belum terdapat laporan kerusakan bangunan akibat gempa tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....