Rentetan Gempa di Bandung dan Garut Diyakini Tidak Memicu Sesar Lembang
- 17 Sep 2026 08:18 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Gempa swarm beruntun di selatan Bandung tidak memicu pergerakan aktif pada Sesar Lembang berdasarkan data seismik resmi.
- Aktivitas kegempaan bersumber dari zona tektonik lokal pada patahan aktif wilayah Garut Selatan, bukan dari struktur geologi utama.
- Sejak pertengahan Agustus 2024, telah tercatat 92 kali gempa bumi di Jawa Barat dengan puncaknya 42 kejadian pada hari Rabu.
RRI.CO.ID, Bandung - Rentetan gempa swarm di kawasan selatan Bandung hingga Garut, Jawa Barat diyakini tidak memicu pergerakan aktif pada Sesar Lembang. Aktivitas kegempaan beruntun tersebut bersumber dari zona tektonik lokal pada patahan aktif wilayah Garut Selatan.
Pencatatan seismik menunjukkan kemunculan 42 kali gempa bumi pada hari Rabu di wilayah Jawa Barat. Akumulasi getaran tanah tersebut telah mencapai 92 kali kejadian sejak pertengahan bulan Agustus tahun ini.
| Baca juga: Gempa Magnitudo 2,3 Landa Nagekeo NTT |
Masyarakat setempat tercatat telah merasakan langsung guncangan gempa bumi berskala kecil sebanyak sebelas kali kejadian. Pusat getaran tektonik tersebut terkonsentrasi pada klaster seismisitas perbatasan antara kawasan Pangalengan dan Kabupaten Garut.
“Oh, tidak sampai, karena ini energinya sangat kecil. Jadi ini lebih kepada zona Sesar Garut Selatan, Mbak. Jadi antara Pangalengan dan Garut itu klaster seismisitasnya, gempanya ada di situ,” kata Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono dalam dialog bersama PRO3 RRI, Kamis, 17 September 2026.
Daryono juga mengamati pelepasan energi pada patahan selatan tersebut dinilai tidak mampu mentransfer tekanan menuju sesar di utara. “Jadi kekuatan-kekuatan 3 koma, 2 koma itu tidak akan mampu memindahkan stres ke Sesar Lembang. Jadi enggak perlu dikhawatirkan ini,” ujarnya.
Sebagian besar peristiwa seismik yang terjadi di kawasan pegunungan tersebut didominasi oleh getaran bermagnitudo tiga. Kondisi geologi lokal berupa endapan tanah lunak dapat memicu proses resonansi yang memperkuat intensitas guncangan.
“Jadi begini, gempa swarm itu sebenarnya itu fenomena ketika rentetan gempa terjadi terus-menerus dalam suatu kawasan dan dalam periode waktu tertentu dengan magnitudo gempa yang relatif kecil tanpa ada satu gempa utama yang dominan. Jadi semuanya kecil gitu. Swarm itu tidak ada yang gede menonjol itu enggak ada,” kata Daryono.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas seismik tersebut secara berkala dan berkesinambungan. Aktivitas rekahan batuan pada lapisan kerak bumi diperkirakan akan mereda secara bertahap seiring berjalannya waktu.
“Jadi rangkaian gempa swarm ini tidak seharusnya direspons dengan kepanikan, ya. Ini sampaikan pada masyarakat bahwa enggak perlu direspons dengan kepanikan. Tapi juga tidak boleh diabaikan, ya,” ucapnya.
Masyarakat diimbau untuk memperkuat struktur bangunan rumah tinggal dengan menggunakan rangkaian besi tulangan berlapis beton. Perabotan berukuran tinggi di dalam ruangan rumah harus diikat kuat pada dinding agar tidak roboh.
“Masyarakat perlu memastikan bangunannya bangunannya itu berada dalam kondisi baik, memiliki struktur yang kuat, besi tulangan yang dibungkus beton. Kalau masih belum mampu, ya mending rumah kayu saja yang didesain menarik, Mbak. Kayu dan bambu yang didesain menarik itu lebih aman, ya,” ujar Daryono.
Edukasi kebencanaan secara terpadu perlu diperluas hingga menyentuh pengurus Rukun Tetangga (RT) dan Rukun Warga (RW). Perguruan tinggi dapat menghadirkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik guna mendampingi mitigasi bencana warga.
“Saya mengimbau daerah-daerah yang merupakan jalur sesar aktif, dekat gunung api, daerah rawan tsunami, itu harus memiliki masyarakatnya itu ada kelompok masyarakat siaga bencana, Mbak. Sehingga itu dari situlah pusat apa ya, edukasi literasi yang akan mencerahkan masyarakat, ya. Bisa mengundang BMKG, bisa mengundang BPBD untuk sama-sama belajar bersama dan mengantisipasi segalanya,” kata Daryono.
Setiap keluarga disarankan untuk merancang rencana evakuasi mandiri dan menentukan lokasi titik kumpul secara bersama. Warga wajib menyiapkan tas siaga darurat bencana yang berisi persediaan bahan makanan selama tiga hari.
“Jadi tidak boleh melupakan, karena gempa itu kan low frequency, high impact, ya. Low frequency, jarang, lama kejadiannya, periodenya. Jangan sampai malah lupa kalau daerahnya rawan gempa, ya,” ucap Daryono.
Wilayah Indonesia berada pada zona cincin api aktif sehingga masyarakat tidak boleh mengabaikan potensi bahaya. Prosedur penyelamatan darurat mandiri dilakukan dengan cara melindungi kepala dan tengkuk di bawah meja kokoh.
Masyarakat disarankan untuk mengunduh aplikasi resmi Info BMKG guna memantau seluruh data aktivitas kegempaan harian. Tingkat literasi kebencanaan yang memadai menjadi fondasi utama dalam menciptakan ketahanan warga menghadapi ancaman gempa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....