Wamendikdasmen: WorldSkills Shanghai Jadi Cerminan Pendidikan Vokasi Indonesia
- 16 Sep 2026 01:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Indonesia mengirim 36 anggota kontingen, terdiri atas 20 kompetitor dan 16 expert, menuju Shanghai.
- Peserta mengikuti 17 bidang kompetisi setelah menjalani seleksi nasional serta pembinaan selama enam hingga sembilan bulan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq menilai WorldSkills Shanghai menjadi tolok ukur kebutuhan keterampilan masa depan. Ajang itu dinilai penting untuk menajamkan arah pendidikan vokasi Indonesia di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
Menurut Fajar, bidang yang dipertandingkan dapat menggambarkan keterampilan yang semakin dibutuhkan dunia kerja. Hasil pengamatan tersebut juga dapat menjadi bahan evaluasi terhadap jurusan dan keahlian vokasi di Indonesia.
“Ajang di Shanghai nanti akan menjadi semacam standardisasi kualitas pendidikan vokasi yang ada di Indonesia. Dari cabangnya, kita bisa meneropong keahlian yang relevan di masa depan,” ujarnya saat pelepasan kontingen Indonesia, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.
Ia menilai pendidikan vokasi perlu terus menyesuaikan jurusan agar relevan dengan perubahan kebutuhan pekerjaan. Penyesuaian tersebut semakin penting ketika perkembangan kecerdasan buatan mulai memengaruhi berbagai bidang kerja.
Fajar menegaskan, kemajuan kecerdasan buatan tidak otomatis menghilangkan kebutuhan terhadap pekerjaan teknis. Bidang listrik, plumbing, konstruksi, dan keterampilan praktis lainnya tetap memiliki ruang besar di dunia kerja.
“Pekerjaan-pekerjaan teknis tidak otomatis hilang karena perkembangan kecerdasan buatan. Justru, eksistensinya akan semakin dibutuhkan di dunia pekerjaan,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Fajar juga melepas 36 anggota kontingen Indonesia menuju WorldSkills Competition 2026 di Shanghai. Kontingen terdiri atas 20 kompetitor dan 16 expert yang akan mendampingi selama kompetisi berlangsung.
Fajar mengatakan para peserta merupakan talenta terpilih yang telah melewati proses seleksi ketat. Karena itu, mereka dinilai sudah menjadi representasi generasi muda Indonesia dengan mental juara.
“Adik-adik telah menjadi representasi talenta muda Indonesia yang bermental juara. Kalian terpilih dari yang terbaik di antara terbaik,” ujarnya.
Menurut Fajar, mental juara tidak hanya ditentukan berdasarkan peringkat maupun raihan medali. Karakter jujur, sportif, mandiri, dan bertanggung jawab juga menjadi bagian penting dari seorang juara.
Pandangan tersebut sebelumnya disampaikan Fajar ketika mengunjungi sebuah sekolah dasar di daerah. Saat itu, ia melihat pesan mengenai esensi juara yang ditekankan melalui pembentukan karakter.
Pesan tersebut kembali disampaikan kepada kontingen Indonesia sebelum mereka berangkat menuju Shanghai. Fajar berharap peserta membawa kebanggaan sekaligus tanggung jawab ketika mewakili Indonesia di panggung dunia.
Indonesia sebelumnya juga mengikuti WorldSkills Competition 2024 yang berlangsung di Lyon, Prancis. Fajar menyebut kontingen ketika itu menempati peringkat ke-11 berdasarkan rata-rata poin medali.
Pada tingkat ASEAN, capaian Indonesia disebut hanya berada di bawah Singapura pada kompetisi tersebut. Hasil itu kemudian menjadi pijakan untuk mendorong prestasi lebih tinggi di Shanghai.
“Kami berharap capaian kontingen tahun ini bisa lebih baik dibandingkan 2024 di Lyon. Apa pun hasilnya, kami tetap bangga,” katanya.
Meski mengejar prestasi, Fajar menekankan manfaat kompetisi tidak berhenti pada perolehan medali. Peserta juga memiliki kesempatan mempelajari praktik terbaik dari talenta vokasi berbagai negara.
Pengalaman tersebut diharapkan dibawa pulang dan dibagikan kepada lingkungan pendidikan maupun komunitas masing-masing. Pengetahuan dari Shanghai juga dapat membantu memperkuat kualitas pendidikan vokasi di Indonesia.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Tatang Muttaqin mengatakan peserta berasal dari siswa SMK. Mereka mengikuti Lomba Kompetensi Siswa sebelum lolos melalui tahapan seleksi dari tingkat nasional.
“Mereka dipilih dari berbagai pemenang tingkat nasional kemudian menjalani pelatihan cukup panjang. Ada yang berlatih enam bulan bahkan sampai sembilan bulan,” ujarnya.
Pembinaan dilakukan bersama balai vokasi, perguruan tinggi, serta industri yang memiliki jaringan internasional. Mitra tersebut membantu peserta mempersiapkan kemampuan sesuai standar kompetisi keterampilan tingkat dunia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....