Kemenko PMK dan Astra Perkuat Ketangguhan Dunia Usaha Hadapi Bencana

  • 15 Sep 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemenko PMK dan Astra International menyelenggarakan Indonesia Rescue Summit 2026 untuk memperkuat kesiapsiagaan dunia usaha menghadapi bencana.
  • Kolaborasi lintas sektor bertujuan meningkatkan kapasitas perusahaan dalam merespons bencana secara cepat, terkoordinasi, dan efektif.
  • Deputi Kemenko PMK Lilik Kurniawan menekankan bahwa penanggulangan bencana memerlukan keterlibatan aktif dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Astra International memperkuat kesiapsiagaan dunia usaha menghadapi ancaman bencana melalui Indonesia Rescue Summit 2026. Kolaborasi tersebut diarahkan meningkatkan kapasitas perusahaan dalam merespons bencana secara cepat, terkoordinasi, dan efektif.

Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK Lilik Kurniawan menegaskan penanggulangan bencana membutuhkan keterlibatan aktif dunia usaha dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor penting memperkuat kesiapsiagaan serta mempercepat respons menghadapi berbagai ancaman bencana di Indonesia.

“Sektor swasta bukan hanya objek yang harus dilindungi saat bencana, tetapi juga subjek dan mitra strategis bangsa Indonesia. Kolaborasi tersebut penting untuk memperkuat ketangguhan nasional serta memastikan respons bencana berjalan cepat, terkoordinasi, dan efektif,” kata Lilik Kurniawan saat memberikan sambutan dalam Apel Kesiapsiagaan dan Gelar Peralatan sekaligus pembukaan IRS–PSRM 2026 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta, Selasa, 15 September 2026.

Lilik menyebut dunia usaha memiliki berbagai sumber daya yang dapat dimobilisasi untuk memperkuat kapasitas penanggulangan bencana nasional. Potensi tersebut mencakup teknologi, jaringan, tenaga ahli, dan infrastruktur yang mendukung respons cepat menghadapi bencana.

Lilik menilai integrasi sumber daya dunia usaha dengan sistem pemerintah mampu meningkatkan kapasitas respons nasional menghadapi bencana. Ia menegaskan kesiapsiagaan lintas sektor diperlukan menghadapi ancaman kekeringan, karhutla, serta aktivitas vulkanik di berbagai wilayah Indonesia.

“Dalam keadaan darurat, kita tidak boleh bekerja sendiri-sendiri, tetapi membutuhkan satu sistem dan koordinasi yang terpadu. Tujuannya jelas, menyelamatkan jiwa dan mengurangi dampak bencana secara cepat, tepat, serta terkoordinasi,” ucap Lilik.

Ia juga menekankan pentingnya keberadaan Emergency Response Team (ERT) di setiap perusahaan. Tim tersebut dinilai perlu memiliki kemampuan teknis sekaligus mampu bekerja sama dengan pemerintah dan relawan di lapangan.

“IRS–PSRM 2026 berlangsung hingga 29 Oktober dengan melibatkan 119 tim dari 29 perusahaan. Peserta mengikuti tujuh kategori kompetisi kedaruratan untuk menguji kemampuan teknis, kesiapsiagaan, dan ketanggapan menghadapi bencana,” ujar Lilik menegaskan.

Lilik berharap IRS–PSRM tidak sekadar menjadi kompetisi, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kapasitas penanggulangan bencana. Praktik baik yang diperoleh peserta diharapkan dapat diterapkan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di perusahaan masing-masing.

“Jangan berhenti sebatas pada menjuarai kompetisi. Yang paling esensial adalah peningkatan kapasitas nyata ketika bencana benar-benar terjadi di lapangan,” ucap Lilik mengungkapkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....