Hari Demokrasi Internasional, Ketahui Latar Belakang Sejarahnya
- 15 Sep 2026 11:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Demokrasi Internasional diperingati setiap 15 September.
- Peringatan tersebut ditetapkan melalui resolusi Majelis Umum PBB pada 2007.
- IPU sebelumnya mengadopsi Universal Declaration on Democracy pada 16 September 1997.
RRI.CO.ID, Jakarta – Hari Demokrasi Internasional diperingati setiap 15 September sebagai momentum memperkuat nilai-nilai demokrasi dunia. Peringatan ini menyoroti pentingnya partisipasi masyarakat, kebebasan, hak asasi manusia, serta pemerintahan yang demokratis.
Pada 2026, Hari Demokrasi Internasional jatuh pada Selasa, 15 September. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perkembangan demokrasi sekaligus berbagai tantangan yang masih dihadapi banyak negara.
Peringatan ini memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya ditetapkan sebagai agenda internasional. Melansir Inter-Parliamentary Union (IPU), Hari Demokrasi Internasional kemudian ditetapkan melalui resolusi Majelis Umum PBB pada 2007.
Penetapan tersebut mendorong negara-negara anggota untuk terus memperkuat dan mengonsolidasikan demokrasi. Upaya itu mencakup penguatan institusi, perluasan partisipasi masyarakat, serta perlindungan hak-hak warga negara.
| Baca juga: Sejarah Stetoskop dan Siapa Penemunya |
Berawal dari Inisiatif IPU
Gagasan mengenai pentingnya penguatan demokrasi global sebelumnya telah lama didorong IPU. Salah satu tonggaknya adalah pengadopsian Universal Declaration on Democracy pada 16 September 1997.
Deklarasi tersebut menegaskan demokrasi sebagai cita-cita universal yang dibangun melalui nilai bersama. Prinsip kebebasan, kesetaraan, transparansi, dan tanggung jawab menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya.
Sepuluh tahun setelah deklarasi tersebut, Majelis Umum PBB menetapkan Hari Demokrasi Internasional pada 2007. Peringatan itu kemudian pertama kali dilaksanakan secara global pada 15 September 2008.
Momentum Mengevaluasi Demokrasi
Hari Demokrasi Internasional tidak hanya menjadi perayaan simbolis setiap tahunnya. Momentum ini juga digunakan untuk meninjau kembali kondisi demokrasi di berbagai belahan dunia.
Demokrasi membutuhkan keterlibatan masyarakat agar dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan. Peran parlemen, pemerintah, masyarakat sipil, dan warga negara menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Melalui peringatan ini, berbagai negara juga didorong memperkuat kebebasan berpendapat dan partisipasi publik. Transparansi serta akuntabilitas pemerintahan turut menjadi unsur penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Sejak pertama kali diperingati, berbagai kegiatan digelar untuk membahas perkembangan demokrasi. Kegiatannya mulai dari diskusi publik, lokakarya, hingga pertemuan antara parlemen dan masyarakat sipil.
Peringatan 15 September akhirnya menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan sekadar sistem pemerintahan. Demokrasi juga membutuhkan partisipasi, kebebasan, serta institusi yang kuat agar dapat terus bertahan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....