Kementan Tekankan Pentingnya Kemandirian Pangan Indonesia

  • 15 Sep 2026 00:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemandirian pangan merupakan salah satu indikator utama kedaulatan negara menurut Profesor Dedi Nursyamsi dari Kementerian Pertanian.
  • Ketahanan nasional sulit dibangun apabila kebutuhan pangan masyarakat masih bergantung pada pihak lain atau negara lain.
  • Negara yang mandiri dalam pangan dan energi tidak akan mudah didikte oleh negara lain, sehingga menjadi bukti nyata kedaulatan negara.

RRI.CO.ID, Jakarta – Penyuluh Pertanian Ahli Utama Kementerian Pertanian, Profesor Dedi Nursyamsi, menegaskan kemandirian pangan merupakan salah satu indikator kedaulatan negara. Menurutnya, ketahanan nasional sulit dibangun bila kebutuhan pangan masyarakat masih bergantung pada pihak lain.

“Kalau kita mandiri dalam hal pangan dan energi, tidak mungkin kita didikte orang lain. Jadi salah satu bukti bahwa negara kita berdaulat, kita betul-betul tidak didikte orang lain,” ucap Dedi saat berbincang dengan PRO 3 RRI, Senin, 14 September 2026.

Karena itu, ia mendorong Indonesia tidak berhenti pada kemandirian pangan, tetapi juga mencapai swasembada pangan. Swasembada berarti kebutuhan pangan domestik dipenuhi melalui produksi dari petani dan lahan Indonesia.

“Mulai 2025 kemarin, kita sudah swasembada pangan dan 2026 meskipun ada El Nino yang kuat. Kita tetap bertekad harus swasembada pangan, sampai saat ini sejak tahun lalu, sudah tidak ada impor beras lagi,” ujar Dedi.

Upaya untuk mencapai swasembada pangan sudah diperkuat melalui berbagai cara sejak tahun 2023. Dedi mengatakan Kementerian Pertanian telah melakukan pembenahan dalam mengelola pupuk subsidi dan memperbaiki distribusinya kepada petani.

Pemerintah juga menyederhanakan berbagai kebijakan untuk mendukung pelaksanaan kebijakan pupuk subsidi. Aturan yang sebelumnya lebih dari 200 regulasi kini telah dikurangi menjadi dua saja.

Pembenahan tersebut turut mendukung petani dalam menjalankan kegiatan produksi pangan. Dedi menyebut keluhan terkait pupuk subsidi relatif berkurang banyak sejak tahun 2025 hingga saat ini.

Dedi menyampaikan pembenahan tersebut turut mendukung petani dalam menjalankan kegiatan produksi pangan. Ia mengatakan keluhan terkait pupuk subsidi relatif berkurang banyak sejak tahun 2025 hingga saat ini.

“Hampir tidak kedengaran lagi sejak 2025 sampai sekarang keluhan terkait pupuk subsidi, jadi itu dilakukan agar petani senang. Dan terbukti produksi 2025, kita ada di angka 34,7 juta ton beras,” kata Dedi.

Menurut Dedi, pencapaian swasembada perlu terus dilanjutkan agar ketahanan pangan bisa menjadi fondasi kedaulatan Indonesia. Upaya tersebut membutuhkan kesiapan petani, dukungan dari kebijakan, dan kemampuan produksi dalam negeri. (Shafira Nursyifa)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....