Hari Kunjung Perpustakaan, Ini Sejarah dan Tujuannya

  • 14 Sep 2026 09:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Hari Kunjung Perpustakaan diperingati setiap 14 September dan mulai dilaksanakan sejak 1995.
  • Peringatan bertujuan meningkatkan budaya membaca serta pemanfaatan perpustakaan sebagai media pembelajaran.
  • Masyarakat dapat memperingatinya melalui kunjungan perpustakaan, donasi buku, program literasi, dan kegiatan komunitas baca.

RRI.CO.ID, Jakarta – Hari Kunjung Perpustakaan diperingati masyarakat Indonesia setiap 14 September untuk mendorong pemanfaatan perpustakaan secara maksimal. Peringatan tersebut sekaligus menjadi momentum memperkuat budaya membaca dan menjadikan perpustakaan sebagai media pembelajaran masyarakat.

Melansir laman Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Hari Kunjung Perpustakaan telah diperingati sejak 14 September 1995. Peringatan tersebut bermula pada masa pemerintahan Presiden Soeharto melalui usulan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Sejarah Hari Kunjung Perpustakaan

Pencanangan bermula melalui surat bernomor 020/A1/VIII/1995 yang diterbitkan pada 11 Agustus 1995. Surat tersebut mengusulkan 14 September 1995 sebagai momentum pencanangan Hari Kunjung Perpustakaan di Indonesia.

Presiden Soeharto berharap penetapan tersebut memberikan dampak positif bagi gerakan intelektual di Indonesia. Harapan tersebut terutama diarahkan untuk memperluas budaya membaca kepada generasi bangsa.

Kepala Perpustakaan Nasional pertama Mastini Harjo Prakoso juga mencatat perjalanan panjang dunia penerbitan Indonesia. Catatan tersebut dimuat dalam Majalah Himpunan Perpustakaan Chusus Indonesia atau HPCI.

Indonesia pernah menjadi negara yang produktif menerbitkan berbagai judul buku pada masa awal kemerdekaan. Kondisi tersebut turut didorong semangat Presiden Sukarno yang dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap kegiatan membaca.

Sukarno mendukung penerbitan, aktivitas membaca, serta pemberantasan buta huruf sebagai bagian prioritas pembangunan masyarakat. Dukungan tersebut ikut mendorong perkembangan industri buku dan kegiatan literasi pada masa itu.

Produksi Buku Indonesia Menarik Perhatian Dunia

Pada 1963, jumlah penerbitan buku Indonesia berkembang dan sektor swasta mulai membangun berbagai usaha penerbitan. Perkembangan tersebut kemudian menarik perhatian sejumlah negara terhadap berbagai terbitan yang dihasilkan Indonesia.

Amerika Serikat ikut membeli buku terbitan Indonesia dan membuka perwakilan perpustakaan nasionalnya di Indonesia. Langkah tersebut menunjukkan besarnya perhatian terhadap perkembangan produksi buku Indonesia pada periode tersebut.

Badan literasi Belanda KITLV juga mengakuisisi terbitan Indonesia, khususnya bidang ilmu sosial dan kemanusiaan. Australia turut menunjuk agen untuk membeli beragam buku Indonesia, terutama publikasi mengenai ilmu pengetahuan sosial.

Perhatian internasional tersebut memperlihatkan pentingnya penerbitan Indonesia sebagai sumber pengetahuan mengenai perkembangan masyarakat. Kondisi itu sekaligus menunjukkan budaya literasi memiliki perjalanan panjang sebelum Hari Kunjung Perpustakaan ditetapkan.

Tujuan Hari Kunjung Perpustakaan

Hari Kunjung Perpustakaan diarahkan mengajak masyarakat memanfaatkan perpustakaan secara optimal sebagai sumber pembelajaran. Perpustakaan menyediakan beragam informasi yang dapat membantu meningkatkan pengetahuan serta kebiasaan membaca masyarakat.

Peringatan ini juga diharapkan meningkatkan kunjungan masyarakat terhadap perpustakaan di berbagai daerah. Semakin banyak masyarakat memanfaatkan perpustakaan, semakin luas pula kesempatan memperoleh akses pengetahuan dan bahan bacaan.

Momentum tersebut dapat diperingati melalui kegiatan membaca maupun mengunjungi perpustakaan terdekat. Masyarakat juga dapat mendukung program literasi, mendonasikan buku, atau menjadi relawan dalam komunitas membaca.

Beragam Cara Memperingatinya

Setiap daerah dapat memiliki cara berbeda dalam memperingati Hari Kunjung Perpustakaan setiap 14 September. Kegiatan biasanya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta program literasi yang berkembang di masing-masing wilayah.

Di Yogyakarta, peringatan pernah dilakukan melalui peningkatan pelayanan kepada pemustaka yang datang ke perpustakaan kota. Pelayanan tersebut menjadi bagian upaya menjadikan kunjungan perpustakaan semakin nyaman dan bermanfaat.

Sementara di Sulawesi Tengah, kegiatan pernah dirangkaikan dengan pelantikan pengurus gerakan Satu Birokrasi Satu Buku. Program yang dikenal sebagai Sabi Sabu tersebut juga disertai kegiatan bedah buku.

Berbagai kegiatan tersebut menunjukkan Hari Kunjung Perpustakaan tidak hanya berkaitan dengan kunjungan membaca. Momentum ini juga membuka ruang memperkuat gerakan literasi, penerbitan, dan akses pengetahuan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....