Benarkah Terhirup Mikroplastik Bisa Picu Kanker Paru-Paru? Ini Penjelasannya
- 13 Sep 2026 15:10 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Studi menemukan mikroplastik lebih banyak pada pasien kanker paru-paru, tetapi belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
- Dari 100 pasien, sebanyak 70 persen memiliki mikroplastik pada sedikitnya satu sampel paru-paru.
- Peneliti menemukan 232 partikel mikroplastik, termasuk polipropilen dan polietilen yang banyak digunakan sehari-hari.
RRI.CO.ID, Jakarta – Studi terbaru menemukan mikroplastik lebih banyak pada paru-paru pasien kanker dibandingkan kelompok tanpa kanker. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan mikroplastik sebagai penyebab langsung kanker paru-paru.
Mengutip News Medical, mikroplastik telah menjadi bagian yang sulit dihindari dari lingkungan manusia. Namun, dampaknya setelah masuk ke tubuh masih belum sepenuhnya dipahami para peneliti.
“Mikroplastik telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari lingkungan kita. Namun, kita masih sedikit mengetahui apa yang terjadi setelah mikroplastik masuk ke tubuh manusia,” ujar Ilias Dimeas, Dokter Spesialis Paru dari University College Dublin School of Medicine dan University of Thessaly yang dikutip dari laman News Medical, Minggu, 13 September 2026.
Peneliti masih mempelajari tingkat normal mikroplastik dalam paru-paru serta variasinya pada setiap individu. Mereka juga belum mengetahui apakah keberadaan partikel tersebut benar-benar berkontribusi terhadap munculnya penyakit.
“Jika kita menghirup partikel-partikel ini setiap hari, kita perlu memahami ke mana partikel tersebut berakhir. Kita juga perlu mengetahui apakah partikel-partikel itu dapat dikaitkan dengan penyakit,” katanya.
Penelitian melibatkan 100 orang yang menjalani bronkoskopi di Rumah Sakit Universitas Larissa, Thessaly, Yunani. Pemeriksaan dilakukan untuk menyelidiki berbagai gejala yang berkaitan dengan kondisi paru-paru pasien.
Bronkoskopi memungkinkan dokter melihat paru-paru dan saluran udara menggunakan tabung tipis melalui hidung atau mulut. Prosedur tersebut juga memungkinkan dokter mengambil jaringan maupun sampel bilasan dari dalam paru-paru.
Dalam penelitian ini, sampel jaringan kecil dan bilasan menggunakan larutan garam diperiksa untuk mendeteksi mikroplastik. Sebanyak 50 pasien didiagnosis kanker paru-paru, sedangkan 50 lainnya tidak menderita kanker tersebut.
Peneliti menemukan sebanyak 232 partikel mikroplastik dari seluruh sampel yang berhasil dikumpulkan. Mikroplastik terdeteksi pada sedikitnya satu sampel milik 70 persen pasien yang diperiksa.
Temuan menunjukkan mikroplastik lebih sering ditemukan pada kelompok pasien kanker paru-paru. Pada sampel bilasan, mikroplastik terdeteksi pada 66 persen pasien kanker dan 46 persen kelompok lainnya.
Peneliti kemudian membandingkan sampel bilasan dengan jaringan yang berasal dari pasien yang sama. Hasilnya, kandungan mikroplastik lebih banyak ditemukan dalam sampel bilasan dibandingkan jaringan paru-paru.
Bilasan menangkap partikel yang berada di ruang udara, sementara jaringan menunjukkan partikel tertanam dalam organ. Perbedaan tersebut mengindikasikan mikroplastik tidak tersebar merata pada seluruh bagian paru-paru.
Jenis mikroplastik yang ditemukan antara lain polipropilen dan polietilen. Kedua bahan tersebut banyak digunakan pada kemasan produk, tekstil, serta berbagai peralatan rumah tangga.
“Temuan ini menambah bukti bahwa pengurangan polusi plastik lingkungan mungkin memiliki manfaat lebih luas. Manfaat tersebut bukan hanya untuk ekosistem, tetapi juga berpotensi bagi kesehatan manusia,” ujarnya.
Meski demikian, Dimeas menegaskan penelitian belum menjelaskan penyebab mikroplastik berada dalam paru-paru. Studi juga belum membuktikan bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan kanker paru-paru.
Penelitian diarahkan mempelajari kemungkinan kontribusi mikroplastik terhadap peradangan dan proses biologis lainnya. Salah satu proses yang menjadi perhatian ialah perubahan biologis berkaitan dengan perkembangan penyakit kanker.
“Yang ditunjukkan adalah mikroplastik ditemukan lebih sering dan dalam jumlah lebih besar pada pasien kanker paru-paru. Temuan ini menimbulkan pertanyaan penting untuk penelitian di masa mendatang,” katanya.
Kanker paru-paru menjadi salah satu jenis kanker paling umum sekaligus penyebab utama kematian akibat kanker. Sekitar 2,5 juta kasus terjadi setiap tahun dan menyebabkan sekitar 1,8 juta kematian.
Merokok masih menjadi penyebab utama kanker paru-paru di berbagai negara. Selain itu, polusi udara kini juga diketahui menjadi salah satu faktor penyebab penyakit tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....