FORMAS Dorong Pemanfaatan Herbal Tekan Biaya Kesehatan

  • 12 Sep 2026 17:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Ketua FORMAS Yohanes Handoyo Budhisedjati menilai pemanfaatan herbal dapat menjadi strategi untuk menekan biaya kesehatan masyarakat Indonesia.
  • Penguatan budaya hidup sehat berbasis herbal perlu dimulai sejak sekarang sebagai bagian dari pencapaian Indonesia Emas 2045.
  • Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa kaya akan rempah dan herbal yang perlu dioptimalkan kembali untuk mendukung kesehatan masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) Yohanes Handoyo Budhisedjati menilai herbal dapat menekan biaya kesehatan. Menurutnya, budaya hidup sehat berbasis herbal perlu diperkuat menuju Indonesia Emas 2045.

Handoyo mengatakan, Indonesia memiliki sejarah panjang sebagai bangsa yang kaya rempah dan tanaman herbal. Kekayaan tersebut perlu kembali dioptimalkan untuk mendukung kesehatan masyarakat.

“Mengapa kita tidak mencari terobosan, yaitu mengembalikan kejayaan masa lalu. Dengan rempah, dengan herbal, dan dengan jamu,” kata Handoyo usai dialog Kebangsaan di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Menurutnya, pola hidup sehat perlu dikenalkan sejak tingkat keluarga. Salah satunya dengan membiasakan konsumsi produk herbal dan jamu dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harapkan kalau tiap orang, generasi muda kita, dapat minum jamu atau dapat apa pun yang menjadi kehidupan sehari-hari,. Maka kita harapkan di 2045 itu kita punya bangsa yang kuat, bangsa yang sehat,” ujarnya.

Handoyo menilai biaya kesehatan yang semakin tinggi perlu direspons melalui pendekatan pencegahan. Menurutnya, penguatan kebiasaan hidup sehat dapat membantu mengurangi risiko penyakit.

“Biaya kesehatan sekarang sudah tidak murah lagi. Dengan perekonomian yang sekarang sangat sulit seperti ini,” ucapnya.

Senada, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mendorong perubahan paradigma kesehatan nasional. Ia menekankan pentingnya memperkuat pencegahan penyakit dibandingkan pengobatan.

“Kalau sudah masuk yang namanya kuratif sampai masuk kepada rehabilitasi, itu biayanya mahal sekali. Mahal sekali,” ujar Taruna.

Taruna menjelaskan ketahanan kesehatan mencakup empat pendekatan, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurutnya, dua pendekatan pertama perlu mendapat perhatian lebih besar.

“Kalau kita fokus pada kuratif dan rehabilitatif, negara pontang-panting untuk membayar semuanya. Kita harus beralih kepada promosi dan pencegahan,” katanya.

Taruna mendorong penguatan promosi kesehatan melalui pola hidup sehat dan pencegahan penyakit. Masyarakat perlu didorong meningkatkan kesadaran menjaga kesehatan sebelum mengalami gangguan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....