Indonesia Punya Kurkumin dan Sambiloto untuk Bersaing di Pasar Herbal Dunia
- 02 Jun 2026 14:44 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BPOM menilai kurkumin dalam kunyit dan temulawak memiliki potensi lebih unggul dibandingkan ginseng karena sifat antioksidan, vasodilator, dan antiinflamasi
- Pengembangan jamu menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka membutuhkan riset, pembuktian ilmiah, serta kolaborasi Academia-Business-Government (ABG)
- Profesor Sukardiman menyebut sambiloto sebagai tanaman unggulan Indonesia dengan potensi antioksidan, antikanker, dan peningkat sistem imun yang dapat bersaing di pasar global
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan kurkumin untuk bersaing dengan ginseng asal Korea Selatan. Menurutnya, kurkumin memiliki keunggulan karena mengandung antioksidan, bersifat vasodilator, serta berpotensi sebagai antiinflamasi.
Ia menjelaskan ginseng memiliki kandungan yang dapat menimbulkan rasa nyaman melalui efek vasodilator. Namun, kurkumin dinilai lebih unggul karena selain antioksidan juga memiliki potensi pengobatan dan antiinflamasi.
“Tapi kurkumin yang lebih kuat lagi yang berhubungan karena dia punya potensi antioksidan. Selain antioksidan dia juga vasodilator, dia juga punya potensi yang pengobatan, anti-inflamasi,” kata Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Taruna Ikrar usai Kick Off ‘Pekan Jamu 2026’ di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Taruna mengatakan keunggulan kurkumin tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal karena pengelolaannya masih belum optimal. Karena itu, diperlukan konsep kolaborasi ABG (Academia-Business-Government) untuk mendukung pengembangan riset dan peningkatan standar produk herbal.
Menurutnya, proses peningkatan dari jamu menjadi obat herbal terstandar membutuhkan penelitian preklinis dan berbagai pengujian ilmiah. Penelitian tersebut mencakup aspek bioavailabilitas, stabilitas, serta pembuktian manfaat antiinflamasi dan fungsi pendukung lainnya.
“Karena dari jamu menjadi obat herbal terstandar membutuhkan penelitian, minimal penelitian praklinis. Membutuhkan bagaimana bioevolubility-nya, bagaimana stability-nya dan sebagainya,” ucapnya.
Di kesempatan yang sama, Profesor Sukardiman dari Universitas Airlangga menyatakan Indonesia memiliki peluang bersaing dengan Korea maupun Tiongkok. Menurutnya, keunggulan utama Indonesia terletak pada kandungan kurkumin yang banyak terdapat dalam kunyit dan temulawak.
Ia menjelaskan kurkumin memiliki efek yang sangat besar dan menjadi salah satu senyawa unggulan Indonesia. Bahkan, temulawak pernah didorong untuk menjadi merek dagang atau identitas jamu khas Indonesia.
“Salah satu unggulan kita sebetulnya adalah bagaimana senyawa utama kurkumin yang punya efek yang luar biasa, ada paling banyak di Kunyit dan juga di Temulawak. Jadi memang ini menjadi unggulan kita kalau tidak salah dulu sebetulnya juga ada program bagaimana Temulawak bisa dijadikan sebagai trademark jamu Indonesia,” ujar Sukardiman.
Selain kurkumin, Sukardiman menyebut sambiloto atau king of bitter sebagai keunggulan lain yang tidak dimiliki Korea Selatan. Tanaman obat tradisional tersebut memiliki beragam khasiat dan telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan herbal.
Menurutnya, sambiloto memiliki potensi sebagai antioksidan, antikanker, serta membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Ia menambahkan tanaman endemis Indonesia tersebut layak diunggulkan bersama temulawak dan kunyit dalam persaingan global.
“Selain sebagai antioksidan, dia juga sebagai anti-cancer juga, meningkatkan sistem imun juga. Karena dengan rasa pahitnya kandungan andrografolid di sana dan termasuk untuk HIV-AID juga kemarin pada saat kita ada pandemi,” katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....