BPOM Ungkap Jejak Pengobatan Nusantara sejak 31 Ribu Tahun Lalu

  • 12 Sep 2026 17:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kepala BPOM Taruna Ikrar mengungkapkan temuan arkeologi di Kalimantan Timur yang menunjukkan praktik operasi amputasi telah dilakukan sekitar 31 ribu tahun lalu.
  • Temuan tersebut dimuat dalam laporan penelitian jurnal Nature dan membuktikan jejak panjang praktik pengobatan di Nusantara sejak era prasejarah.
  • Pernyataan Taruna Ikrar disampaikan dalam acara Dialog Kebangsaan bertema 'Rakyat Sehat, Negara Kuat' di Jakarta pada Jumat, 11 September 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengungkap sejarah panjang praktik pengobatan di Nusantara. Ia menyinggung temuan arkeologi di Kalimantan Timur yang menunjukkan praktik amputasi sekitar 31 ribu tahun lalu.

Taruna merujuk laporan penelitian yang disebutnya dimuat dalam jurnal Nature. “Menurut laporan Journal Nature tadi, di Kalimantan Timur ada seorang yang dilakukan surgery amputation 31.000 tahun yang lalu,” kata Taruna dalam Dialog Kebangsaan “Rakyat Sehat, Negara Kuat” di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.

Menurutnya, praktik amputasi pada masa tersebut bukan prosedur sederhana. “Sejak 31.000 tahun yang lalu sudah ada tabib atau apa di mana itu sebetulnya bapak kedokteran yang sebenarnya,” ujar Taruna.

Taruna mengatakan, keberhasilan prosedur tersebut terlihat dari kondisi orang yang menjalani amputasi. Berdasarkan temuan yang disampaikannya, orang tersebut masih hidup sekitar sembilan tahun setelah operasi.

“Ternyata operasinya sukses. Amputasi adalah salah satu operasi yang paling susah,” ucapnya.

Taruna kemudian mempertanyakan cara masyarakat masa itu menangani rasa sakit akibat tindakan amputasi. “Obat apa yang digunakan, dicubit saja kan sakit, apalagi diamputasi,” ujar Taruna.

Taruna mengaitkan temuan tersebut dengan pemanfaatan tanaman herbal dalam penanganan kesehatan. Menurutnya, herbal diduga telah digunakan masyarakat Nusantara sejak masa tersebut.

“Ternyata dari hasil penemuan itu, jawabannya adalah dia menggunakan yang kita sebut dengan herbal. Berdasarkan penggunaan herbal itulah maka ternyata sukses semuanya,” ujar Taruna.

Menurut Taruna, temuan tersebut menunjukkan panjangnya sejarah pemanfaatan herbal di Nusantara. Ia menilai kekayaan tersebut menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan.

Taruna mengatakan, sejarah pemanfaatan tanaman obat sejalan dengan besarnya kekayaan hayati Indonesia. Ia menyebut Indonesia memiliki lebih dari 30 ribu sumber daya hayati yang berpotensi dikembangkan menjadi obat herbal.

Menurutnya, potensi tersebut perlu dikelola dan dikembangkan secara ilmiah agar tidak berhenti sebagai kekayaan sejarah dan budaya. Pengembangan tersebut diharapkan memberikan manfaat bagi kesehatan dan perekonomian masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....