TNI Perkuat Diplomasi Pertahanan Hadapi Ancaman Nontradisional
- 12 Sep 2026 17:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- TNI memperkuat diplomasi pertahanan untuk menghadapi ancaman keamanan nontradisional yang mencakup keamanan siber, terorisme, keamanan maritim, dan perlindungan infrastruktur bawah laut di kawasan Indo-Pasifik.
- Ancaman nontradisional bersifat tidak kasatmata (intangible) sehingga memerlukan pendekatan kerja sama internasional yang koordinatif untuk mengantisipasi dan mengatasi ancaman tersebut.
- Kabid Kerja Sama ASEAN Puskersin TNI menekankan pentingnya kolaborasi multilateral dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan dari berbagai jenis ancaman nonkonvensional.
RRI.CO.ID, Jakarta - TNI memperkuat diplomasi pertahanan untuk menghadapi ancaman keamanan nontradisional di kawasan Indo-Pasifik. Ancaman tersebut mencakup keamanan siber, terorisme, keamanan maritim, hingga perlindungan infrastruktur bawah laut.
Kabid Kerja Sama ASEAN Puskersin TNI Kolonel Arm David Eldo mengatakan, ancaman nontradisional bersifat tidak kasatmata. Menurutnya, kerja sama internasional diperlukan untuk menghadapi berbagai ancaman keamanan kawasan.
“Yang nontradisional itu yang tidak kasatmata, misalnya masalah keamanan siber. Kemudian kontraterorisme, keamanan maritim, dan bantuan kemanusiaan juga menjadi ancaman yang harus dihadapi,” ujar David dalam dialog Pro3 RRI, Sabtu, 12 September 2026.
Untuk itu, TNI mengembangkan kerja sama untuk melindungi infrastruktur bawah laut yang mendukung konektivitas digital. Salah satunya mencakup perlindungan kabel internet yang berada di bawah laut.
David mengatakan, kerja sama intelijen dilakukan melalui pertukaran informasi dengan negara-negara kawasan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk membatasi pergerakan jaringan yang mengancam keamanan.
“Kita sharing informasi dengan Malaysia, Singapura, Filipina. Sehingga jaringan ini bisa ditutupi, pergerakannya dibatasi, sehingga bisa tertangkap,” katanya.
Kerja sama juga dilakukan melalui patroli terkoordinasi dengan negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia. Kegiatan tersebut mencakup pengamanan wilayah perairan dan ruang udara antarnegara.
Selain keamanan, diplomasi pertahanan juga diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme prajurit TNI. Pertukaran pendidikan memberi kesempatan prajurit mempelajari pengalaman dan praktik pertahanan negara lain.
David mengatakan, prajurit TNI mengikuti pendidikan internasional di sejumlah negara mitra. Program tersebut mendorong transfer pengetahuan, teknologi, serta pembelajaran dari pengalaman negara lain.
“Prajurit kita belajar dari best practice negara lain. Knowledge transfer dan technology transfer, kemudian lesson learned juga dari sana,” ucapnya.
Diplomasi pertahanan dinilai turut mendukung stabilitas kawasan dan keamanan jalur perdagangan Indonesia. Kondisi tersebut diharapkan memberikan dampak positif terhadap kegiatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. (Rahmania Ulfah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....