Kepala BPOM Tekankan Pergeseran Paradigma Kesehatan pada Pencegahan Penyakit
- 12 Sep 2026 12:56 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kepala BPOM Taruna Ikrar mendorong pergeseran paradigma kesehatan nasional dari fokus pengobatan ke pencegahan penyakit.
- Biaya perawatan kuratif dan rehabilitasi sangat mahal sehingga pencegahan sejak dini menjadi prioritas strategis.
- Perubahan paradigma ini disampaikan dalam Dialog Kebangsaan bertema
RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mendorong pergeseran paradigma di bidang kesehatan nasional. Ia menekankan fokus pada penguatan pencegahan penyakit dari pada pengobatan.
“Kalau sudah masuk yang namanya kuratif sampai masuk kepada rehabilitasi, itu biayanya mahal sekali. Mahal sekali,” ujar Taruna dalam Dialog Kebangsaan “Rakyat Sehat, Negara Kuat” di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Taruna menjelaskan ketahanan kesehatan setidaknya mencakup empat pendekatan, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Menurutnya, dua pendekatan pertama perlu mendapat perhatian lebih besar.
“Karena kalau kita mau fokus pada yang namanya kuratif dan rehabilitatif, negara pontang-panting untuk membayar semuanya. Saya setuju betul dengan apa yang disampaikan bahwa kita harus beralih kepada promosi dan pencegahan,” katanya.
Taruna mendorong penguatan promosi kesehatan melalui penerapan pola hidup sehat serta pencegahan penyakit. Ia menilai masyarakat perlu didorong agar memiliki kesadaran menjaga sebelum mengalami gangguan kesehatan.
“Jadi kita harus geser ke promotif, mempromosikan cara hidup sehat. Bergeser mempromosikan atau pencegahan,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Taruna menilai kekayaan tanaman obat Indonesia dapat menjadi salah satu bagian dari pendekatan promotif dan preventif. Ia mencontohkan kunyit yang mengandung kurkumin dan disebut memiliki manfaat sebagai anti-inflamasi.
“Di hadapan kita di sini sudah banyak jamu, saya lihat, salah satunya tadi yang disebut misalnya kunyit. Kunyit itu kurkuma, itu salah satu pengobatan anti-inflamasi yang cukup dan sangat baik dengan penggunaan hanya kunyit,” kata Taruna.
Menurut Taruna, pemanfaatan herbal tetap perlu dikembangkan dengan pendekatan ilmiah. Sehingga potensi sumber daya alam Indonesia dapat memberikan manfaat bagi kesehatan masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....