Aktivitas Anak Krakatau Menurun, Badan Geologi Tetap Waspadai Suplai Magma
- 12 Sep 2026 12:21 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Aktivitas Gunung Anak Krakatau menurun setelah erupsi menerus sekitar 25 jam pada 4–6 September 2026
- Badan Geologi tetap mempertahankan status Level III atau Siaga karena gempa vulkanik meningkat dan suplai magma masih berlangsung
- Masyarakat, wisatawan, nelayan, dan pelaku pelayaran diminta tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif
RRI.CO.ID, Lampung - Aktivitas Gunung Anak Krakatau mulai menurun setelah mengalami erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Badan Geologi tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.
Perubahan aktivitas terjadi setelah episode erupsi menerus pada 4 hingga 6 September 2026 berakhir. Setelah itu, aktivitas permukaan gunung api berangsur menurun dan berubah menjadi erupsi Strombolian.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria menjelaskan, sebanyak 14 kali erupsi Strombolian tercatat setelah episode tersebut berakhir. Evaluasi aktivitas Gunung Anak Krakatau dilakukan hingga Jumat, 11 September 2026 pukul 06.00 WIB.
"Erupsi Strombolian merupakan salah satu karakteristik aktivitas Gunung Anak Krakatau. Munculnya kembali erupsi Strombolian menunjukkan bahwa episode erupsi menerus telah berakhir. Namun, aktivitas vulkanik masih berlangsung sehingga masyarakat tetap perlu waspada dan mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan," ujar Lana dalam keterangan tertulis, Jumat, 11 September 2026.
Erupsi Strombolian merupakan letupan berkala yang terjadi akibat pelepasan gas dari magma. Aktivitas tersebut dapat menyebabkan lontaran material pijar dan abu vulkanik di sekitar kawah.
Berdasarkan pemantauan, gempa frekuensi rendah serta gempa hybrid atau fase banyak masih berfluktuasi dengan kecenderungan menurun. Namun, gempa vulkanik tercatat meningkat dibandingkan kondisi rata-rata rekaman Gunung Anak Krakatau.
Peningkatan gempa vulkanik dalam mengindikasikan pergerakan atau suplai magma dari bagian lebih dalam masih berlangsung. Kondisi tersebut membuat kemungkinan terjadinya erupsi kembali tetap tinggi meskipun aktivitas permukaan menurun.
Badan Geologi memastikan pemantauan Gunung Anak Krakatau tetap berlangsung dengan memanfaatkan peralatan yang masih berfungsi. Pengamatan juga dilakukan melalui pemantauan visual serta parameter lain untuk mengevaluasi aktivitas gunung api.
"Pemantauan Gunung Anak Krakatau tetap dapat dilakukan secara berkelanjutan. Data dari peralatan yang masih berfungsi terus diterima dan dianalisis sebagai dasar evaluasi tingkat aktivitas serta rekomendasi," ucap Lana.
Badan Geologi juga menyiapkan pemeriksaan, perbaikan, dan penggantian peralatan yang terdampak erupsi secara bertahap. Pelaksanaan pekerjaan mempertimbangkan aktivitas gunung api, kondisi cuaca, serta aspek keselamatan petugas.
"Keselamatan personel menjadi prioritas. Petugas baru akan diterjunkan setelah kondisi memungkinkan dan seluruh prosedur keselamatan terpenuhi," katanya.
Dengan status Level III atau Siaga, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Imbauan tersebut juga berlaku bagi wisatawan, nelayan, dan pelaku aktivitas pelayaran di sekitar Gunung Anak Krakatau.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran material pijar, abu vulkanik, dan kemungkinan awan panas. Masyarakat yang terdampak hujan abu dianjurkan memakai masker, melindungi mata, serta menutup sumber air bersih.
"Karena Krakatau gunung api aktif, menurunnya intensitas erupsi di permukaan bukan berarti aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau akan berhenti. Tetap waspada, patuhi radius rekomendasi, dan ikuti informasi resmi pemerintah," ujar Lana.
Badan Geologi mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi perkembangan Gunung Anak Krakatau dapat diperoleh melalui kanal resmi Badan Geologi dan MAGMA Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....