Wapres Tekankan Prioritas Perlindungan Kelompok Rentan Hadapi Dampak Karhutla
- 10 Sep 2026 20:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Presiden Gibran Rakabuming melakukan peninjauan ke Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Banjarbaru pada Kamis, 10 September 2026 untuk mengevaluasi kesiapan layanan kesehatan menghadapi dampak karhutla.
- Peninjauan ini bertujuan memastikan bahwa fasilitas dan layanan kesehatan siap merespons kebutuhan masyarakat di tengat ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak pada kesehatan warga.
- Kunjungan kerja Wapres ke Kalimantan Selatan merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat mitigasi bencana dan kesiapan sistem kesehatan dalam mengantisipasi potensi bencana alam.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming meninjau kesiapan layanan kesehatan dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam kunjungan kerjanya ke Kalimantan Selatan, ia mengunjungi Rumah Sakit Daerah Idaman (RSDI) Kota Banjarbaru, Kamis, 10 September 2026.
Peninjauan ini untuk memastikan fasilitas dan layanan kesehatan siap merespons kebutuhan masyarakat. Terutama di tengah kondisi karhutla yang berpotensi memengaruhi kesehatan dan keselamatan warga.
Kondisi karhutla di Kalsel masih menjadi perhatian, seiring tingginya frekuensi kejadian dan luas wilayah terdampak. Dalam periode 1 Januari hingga 10 September 2026, tercatat 2.963 kali kejadian karhutla.
Dimana diperkiraan luasan lahan terbakar mencapai 20.206,06 hektare. Banjarbaru termasuk dalam tiga kabupaten/kota dengan jumlah kejadian tertinggi.
| Baca juga: Wapres Dorong Inovasi Drone Deteksi Karhutla |
Yakni 588 kalikarhutla, dan perkiraan lahan terdampak mencapai 2.539,97 hektare. Wapres memberikan perhatian khusus pada kesiapan fasilitas dan layanan kesehatan agar mampu merespons dampak karhutla secara cepat dan tepat.
“Dalam penanganan karhutla, menjaga keselamatan dan kesehatan warga, terutama kelompok rentan. Seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penyandang disabilitas adalah penting,” kata Wapres.
Untuk itu, Wapres meminta kesiapan rumah sakit menjadi perhatian. Menurutnya, kesiapan tersebut penting guna memastikan masyarakat terdampak dapat memperoleh penanganan secara cepat ketika membutuhkan layanan kesehatan.
“Rumah sakit harus siap, terutama untuk anak-anak dan kelompok rentan. Obat, oksigen, tempat tidur, tenaga kesehatan, dan sistem rujukan harus dipastikan tersedia ketika dibutuhkan,” ujarnya.
Selain kesiapan fasilitas kesehatan, Wapres juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk mengurangi risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla. “Tolong tingkatkan edukasi masyarakat, utamanya dalam menggunakan masker,” ujarnya.
Pada kesempatan ini, Wapres juga menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat di tengah kondisi karhutla. Ia menegaskan, keberlangsungan pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam penanganan karhutla.
Pada kesempatan tersebut Wapres pun berbincang dengan pasien maupun keluarga pasien. Ia berjumpa dengan Siti Fatimah, seorang Ibu yang anaknya sedang mengalami sakit batuk dan pilek dampak asap.
Siti menyampaikan kepada Wapres bahwa kesiapan fasilitas kesehatan di RSD Idaman sangat baik. Ia pun mendapatkan penanganan yang baik saat berobat di fasilitas kesehatan ini.
“Di sini bagus [penanganan pasiennya], karena saya juga lahirnya disini, kan. Jadi anak-anak disini juga kalau sakit,” ujar Siti.
Hal yang sama disampaika Puji Lestari, seorang Ibu hamil yang berbincang dengan Wapres. Ia menyampaikan dalam keadaan asap tebal ini, sebagai tindakan preventif Ia membatasi kegiatan di luar rumah.
“Jadi saya tidak kemana-mana, minum vitamin saja dari puskesmas. Sudah periksa hamil rutin. Minum kalsium juga dari puskesmas,” kata Puji.
Dampak paparan asap karhutla turut dirasakan pasien anak yang menjalani perawatan di RSDI. Salah satunya Aira, pelajar asal Martapura, yang telah dua hari menjalani perawatan setelah mengalami batuk, pilek, dan demam.
Ia menuturkan keluhan tersebut muncul setelah terpapar asap yang cukup tebal saat hendak berangkat sekolah. Sementara itu, Kepala Staf Medis Fungsional Anak RSDI, Harapan Parlindungan Ringoringo, berharap penanganan karhutla dapat segera mengatasi sumber kebakaran.
“Bagaimana caranya ini asap segera berhenti, entah pakai hujan buatan, entah pakai apa, karena sumber utamanya kan kebakarannya. Berikutnya, harapannya ya mitigasi," katanya.
"Kalau saya pribadi, di sini sudah 30 tahun, sekitar 3-4 tahun sekali kayak begini. Tidak setiap tahun, tapi yang saat ini memang luar biasa dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....