Kemendikdasmen Percepat Revitalisasi SDN Mboeng, 1.487 Sekolah di NTT Jadi Sasaran

  • 10 Sep 2026 11:06 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan revitalisasi Sekolah Dasar Negeri (SDN) Mboeng, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), segera dilakukan tahun ini. Perbaikan tersebut menyasar ruang kelas yang mengalami kerusakan berat serta sejumlah ruang belajar yang masih menggunakan bangunan darurat.

Direktur Sekolah Dasar Kemendikdasmen Moch. Salim Somad mengatakan pihaknya telah turun langsung melihat kondisi SDN Mboeng. Pemerintah sekaligus memastikan kebutuhan perbaikan agar proses revitalisasi dapat segera dilaksanakan.

“Sudah turun (Kemendikdasmen), langsung diperbaiki kelas yang rusak berat. Selain itu, yang darurat,” kata Salim, Rabu, 9 September 2026.

SDN Mboeng saat ini memiliki 84 siswa yang terbagi dalam enam rombongan belajar. Sekolah tersebut juga didukung 10 tenaga kependidikan untuk menjalankan kegiatan pembelajaran dan pelayanan pendidikan.

Namun, kondisi sarana dan prasarana sekolah masih menghadapi sejumlah keterbatasan. Dari bangunan yang tersedia, terdapat lima bangunan permanen dengan dua ruang kelas mengalami kerusakan berat.

Kerusakan tersebut membuat ruang kelas tidak dapat digunakan secara optimal untuk kegiatan belajar mengajar. Kondisi itu kemudian membuat sekolah masih menggunakan empat ruang kelas darurat untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran siswa.

Keterbatasan ruang belajar menjadi tantangan tersendiri bagi SDN Mboeng dalam memberikan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman. Bahkan, sebagian pembangunan ruang kelas sebelumnya dilakukan melalui swadaya masyarakat, terutama orang tua siswa.

“Sebagian pembangunan dari swadaya orang tua siswa. Keterbatasan ruang belajar jadi tantangan," ujar Salim.

Kondisi SDN Mboeng sebelumnya menjadi perhatian publik setelah kondisi fisik sekolah yang memprihatinkan ramai diperbincangkan di media sosial. Perhatian tersebut semakin besar setelah sekolah diketahui menerima perangkat pembelajaran digital dari pemerintah.

Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan mengenai kesesuaian antara program digitalisasi pendidikan dan kesiapan infrastruktur dasar sekolah. Pemerintah menilai kedua program tersebut tetap dapat berjalan bersamaan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

Salim menjelaskan berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), SDN Mboeng tercatat memiliki sumber listrik. Data tersebut menjadi salah satu dasar sekolah menerima perangkat televisi untuk mendukung kegiatan pembelajaran.

“Digitalisasi di sekolah berjalan. Perbaikan fisik sekolah juga dilakukan,” katanya.

Menurut Salim, digitalisasi pendidikan tidak harus menunggu seluruh persoalan infrastruktur sekolah selesai terlebih dahulu. Pemerintah menjalankan kedua program tersebut secara bersamaan sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing satuan pendidikan.

Program digitalisasi diarahkan untuk memperluas akses peserta didik terhadap sumber belajar dan metode pembelajaran yang lebih beragam. Sementara revitalisasi ditujukan untuk memastikan sekolah memiliki ruang belajar yang aman, sehat, dan layak digunakan.

Dalam kasus SDN Mboeng, pemerintah berharap perbaikan fisik dapat berjalan beriringan dengan pemanfaatan perangkat pembelajaran digital. Dengan demikian, peningkatan fasilitas sekolah tidak hanya menyentuh aspek bangunan, tetapi juga mendukung mutu proses pembelajaran.

Revitalisasi SDN Mboeng juga menjadi bagian dari program pemerintah untuk memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan di berbagai wilayah NTT. Kemendikdasmen mencatat sebanyak 1.487 satuan pendidikan di provinsi tersebut menjadi sasaran revitalisasi hingga 2026.

Pada 2025, program revitalisasi menyasar 580 satuan pendidikan di NTT. Jumlah tersebut meningkat pada 2026 dengan dukungan anggaran yang mencapai Rp1,2 triliun.

“Untuk 2026 ini jumlahnya lebih banyak. Anggaran mencapai Rp1,2 triliun,” kata Salim.

Besarnya cakupan program tersebut menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pemerataan sarana dan prasarana pendidikan. Terutama bagi sekolah-sekolah yang masih menghadapi persoalan bangunan rusak, keterbatasan ruang kelas, maupun fasilitas pendukung pembelajaran.

Revitalisasi diharapkan tidak sekadar memperbaiki bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Program tersebut juga diarahkan untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan mendukung peserta didik mengikuti proses pembelajaran secara optimal.

Ketersediaan ruang kelas yang layak menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan proses belajar mengajar yang berkualitas. Karena itu, perbaikan infrastruktur dasar tetap menjadi bagian penting di tengah dorongan pemerintah memperluas digitalisasi pendidikan.

Kemendikdasmen juga mengapresiasi masyarakat yang selama ini ikut membantu penyediaan fasilitas pendidikan melalui swadaya. Dukungan tersebut dinilai menunjukkan kepedulian masyarakat terhadap keberlangsungan pendidikan di daerah.

Salim menegaskan pemerintah akan terus berupaya menghadirkan sekolah yang aman, layak, dan mampu memberikan layanan pendidikan bermutu. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda pemerataan akses pendidikan bagi seluruh peserta didik.

“Termasuk pembelajaran yang bermutu. Kemudian, akses pendidikan yang merata,” ujarnya..

Dengan revitalisasi tersebut, SDN Mboeng diharapkan dapat terbebas dari persoalan ruang kelas rusak berat dan penggunaan bangunan darurat. Perbaikan infrastruktur juga diharapkan memperkuat pemanfaatan teknologi pembelajaran yang telah diberikan pemerintah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....