Komite II DPD RI Minta Konektivitas Nasional Tak Sekadar Infrastruktur
- 09 Sep 2026 11:27 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Angelius Wake Kako, Wakil Ketua Komite II DPD RI, mendesak BUMN transportasi untuk memperluas konektivitas nasional mencakup wilayah 3TP (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
- Konektivitas yang dimaksud tidak hanya mencakup pembangunan infrastruktur, tetapi juga akses transportasi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan untuk masyarakat.
- Rapat Dengar Pendapat Komite II DPD RI dengan BUMN sektor perhubungan di Jakarta membahas pelaksanaan undang-undang di bidang transportasi dan strategi konektivitas nasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Komite II DPD RI Angelius Wake Kako meminta BUMN sektor transportasi memperluas makna konektivitas nasional hingga menjangkau wilayah 3TP. Konektivitas tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga akses transportasi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan.
Angelius menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Dengar Pendapat Komite II DPD RI bersama BUMN sektor perhubungan di Jakarta. Rapat tersebut membahas pelaksanaan undang-undang di bidang transportasi.
Angelius menjelaskan, BUMN sektor perhubungan memiliki peran sebagai operator dan pengelola infrastruktur. BUMN juga menjalankan penugasan serta kewajiban pelayanan publik, terutama di wilayah yang belum layak secara komersial.
“Kami ingin memastikan pembangunan dan penyelenggaraan transportasi benar-benar menjawab kebutuhan daerah. Karena itu, melalui rapat ini kami ingin melihat secara objektif kesenjangan antara kebijakan dan pelaksanaannya,” ujar Angelius di Jakarta, Selasa, 8 September 2026.
Direktur Utama PT Jasa Marga Rivan Achmad Purwantono menyampaikan, jalan tol memiliki peran strategis sebagai tulang punggung konektivitas darat Indonesia. Jalan tol juga mempercepat mobilitas masyarakat dan distribusi logistik serta menghubungkan pusat ekonomi, kawasan industri, pelabuhan, bandara, dan simpul transportasi lainnya.
Rivan mengungkapkan, pengembangan jalan tol perlu menjadi bagian dari sistem transportasi nasional yang terintegrasi. Tantangannya mencakup kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL), tata guna lahan, alih fungsi ruang milik jalan, distribusi lalu lintas belum merata.
Jasa Marga mendorong penguatan pengawasan melalui teknologi Weight-in-Motion (WIM), Radio Frequency Identification (RFID), integrasi data, rekayasa perkerasan, dan manajemen lalu lintas. “Jalan tol bukan sekadar menghubungkan lokasi. Tetapi menghubungkan multimoda transportasi, pusat ekonomi, dan rantai logistik,” ujar Rivan.
Direktur Operasi dan Transformasi PT ASDP Indonesia Ferry Rio Theodore Natalianto Lasse menegaskan, layanan penyeberangan berperan strategis dalam memperkuat konektivitas nasional. Peran tersebut mencakup penghubung antarpulau, pusat ekonomi, dan wilayah 3TP.
ASDP saat ini mengelola 37 pelabuhan, 343 rute, dan 225 kapal. Layanan tersebut berkontribusi Rp28,2 triliun terhadap PDB, Rp1,55 triliun terhadap fiskal, serta menciptakan 12,8 ribu lapangan kerja.
Rio menuturkan, ASDP juga mendorong pergeseran angkutan logistik dari darat ke laut melalui layanan Ro-Ro/Ro-Pax. Langkah tersebut ditujukan untuk menekan biaya logistik, mengurangi beban jalan, dan meningkatkan keselamatan transportasi.
“Diperlukan kebijakan yang menyelaraskan kuota BBM dengan trayek baru, menjamin keberlanjutan layanan keperintisan melalui skema PSO (Public Service Obligation). Selain itu, diperlukan integrasi data dan perencanaan jaringan transportasi multimoda secara nasional,” ujar Rio.
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PT PELNI Nuraini Dessy W. menyebut PELNI berperan penting menjaga konektivitas antarpulau. PELNI mengoperasikan jaringan yang mencakup 43 cabang, 306 terminal point, 357 pelabuhan singgah, dan 1.111 ruas trayek.
Menurut Nuraini, layanan PSO menjadi instrumen penting agar masyarakat di wilayah terpencil tetap memperoleh akses transportasi laut yang terjangkau. “PSO memungkinkan PELNI tetap melayani wilayah 3TP yang tidak layak secara komersial sekaligus menjaga konektivitas nasional,” ujar Nuraini.
Direktur Komersial PT Angkasa Pura Indonesia Very Y. Setiady menyampaikan, penguatan konektivitas udara dilakukan melalui perluasan jaringan rute domestik dan internasional. Hingga Juli 2026, terdapat 104 realisasi rute baru yang terdiri atas 79 rute domestik dan 25 rute internasional.
“Penguatan konektivitas bukan hanya soal menambah rute penerbangan, tetapi juga memastikan kapasitas, kualitas layanan, dan infrastruktur bandara. Mampu mendukung pertumbuhan mobilitas serta membuka akses ke berbagai daerah,” ujar Very.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....