Hotspot Nasional Turun 288 Titik, Kalteng-Kalbar Menurun Signifikan

  • 08 Sep 2026 13:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta – Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional mengalami penurunan signifikan. Hal tersebut terlihat berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan.

Tercatat jumlah hotspot turun 288 titik dari 674 titik pada 6 September menjadi 386 titik pada 7 September 2026. Penurunan cukup tajam terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Sementara, Sumatra Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan penurunan jumlah hotspot tersebut menjadi perkembangan positif. Namun, seluruh pihak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla.

“Secara nasional jumlah hotspot high confidence mengalami penurunan cukup signifikan. Namun, kondisi ini tidak boleh membuat kita lengah, terutama karena Sumatra Selatan saat ini mencatat jumlah hotspot tertinggi,” kata Ristianto dalam keterangannya, Selasa, 8 September 2026.

Berdasarkan data SiPongi bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, pada 7 September 2026 pukul 21.20 WIB, Sumsel mencatat 88 hotspot. Selanjutnya Kalimantan Tengah sebanyak 46 titik dan Kalimantan Barat 31 titik.

Sementara itu, Riau tercatat memiliki 10 titik. Sedangkan Jambi dan Kalimantan Selatan masing-masing empat titik.

Ristianto mengatakan Kalimantan Tengah mencatat penurunan paling signifikan dengan berkurangnya 197 hotspot dalam satu hari. Penurunan juga terjadi di Kalimantan Barat yang berkurang sebanyak 107 titik.

“Penurunan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat memberikan kontribusi besar terhadap turunnya jumlah hotspot secara nasional. Meski demikian, seluruh wilayah prioritas tetap dalam pengawasan dan penanganan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.

“Satu kejadian kebakaran bisa terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan,” kata Ristianto.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, terus melakukan patroli serta groundcheck. Upaya tersebut juga meliputi pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, hingga pemantauan lokasi yang berpotensi mengalami penyalaan kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....