KLH Pantau Dampak Abu Vulkanik Anak Krakatau, Apa Saja Catatannya?
- 07 Sep 2026 06:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta – Kementerian Lingkungan Hidup memperkuat pemantauan kualitas lingkungan. Hal itu menyusul meluasnya sebaran abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan dilakukan untuk mengantisipasi dampak ekologis sekaligus memastikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga. Hal tersebut dikatakan langsung Plt. Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH, Noer Adi Wardoyo.
“KLH terus melakukan pemantauan kualitas udara ambien, termasuk parameter PM2.5, PM10, dan konsentrasi Sulfur Dioksida atau SO2. Kami juga melakukan pemantauan kualitas air laut di wilayah pesisir Banten dan Lampung,” ujar Noer dalam keterangannya, Senin, 7 September 2026.
Berdasarkan informasi BMKG, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terpantau pada 4 September 2026 pukul 23.23 WIB. Analisis citra satelit hingga 6 September 2026 pukul 08.00 WIB menunjukkan sebaran abu vulkanik.
Sebarannya meliputi sejumlah wilayah dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat. Diikuti, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan hingga Samudra Hindia.
Noer mengatakan pemantauan kualitas udara terus dioptimalkan melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) dan sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Berdasarkan data per 6 September 2026, kualitas udara di wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat berada dalam kategori baik.
Sejumlah lokasi yang tercatat dalam kategori sedang antara lain Jakarta GBK dengan nilai ISPU 64, Serang Sumurpecung 85. Kemudian Tangerang Pasir Jaya 65, Tangerang Selatan Serpong 78, Cilegon Pulomerak 63, serta Kabupaten Bogor Leuwiliang 83.
Sementara itu, kualitas udara di Kabupaten Bekasi Sukamahi tercatat dalam kategori baik dengan nilai ISPU 39. KLH mencatat kondisi berbeda di sejumlah wilayah Sumatera bagian selatan.
Beberapa daerah tercatat memiliki nilai ISPU lebih tinggi dengan parameter kritis dominan PM2.5. Palembang Bukit Kecil tercatat berada dalam kategori sangat tidak sehat dengan nilai ISPU 216.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir. Dengan nilai 237 dan Kabupaten Ogan Ilir sebesar 213.
Selain itu, sejumlah wilayah lain berada dalam kategori tidak sehat. Termasuk Kabupaten Lahat, Musi Rawas, Prabumulih, Musi Banyuasin, Tebo, Jambi, dan Tanjung Jabung Timur.
“Wilayah Sumatera bagian selatan juga masih terdampak kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, KLH masih mendalami hubungan langsung antara peningkatan partikulat dengan erupsi Gunung Anak Krakatau melalui kajian teknis,” katanya.
KLH juga memperkuat koordinasi lintas sektor bersama BMKG, Badan Geologi/Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Hingga BNPB, Kementerian Kesehatan, pemerintah daerah, serta instansi terkait.
Noer mengimbau masyarakat tetap tenang dan mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi pemerintah. Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan apabila terjadi perubahan kondisi kualitas udara.
“Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu lebih berhati-hati. Penggunaan masker saat beraktivitas di luar ruangan dapat dilakukan apabila kondisi kualitas udara memburuk,” ujar Noer.
KLH menegaskan pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan perubahan kualitas udara dan lingkungan dapat terdeteksi lebih dini. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dan bersama-sama menjaga kualitas udara serta kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....