BRIN Ungkap Perkembangan Inovasi Tepung Singkong untuk Memadamkan Karhutla
- 07 Sep 2026 01:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tahapan pengembangan inovasi pati singkong untuk karhutla yakni pada tahap pengembangan di laboatorium terutama formulasi kestabilan penyemprotan
- Pengembangan riset pati singkong untuk karhutla memiliki tantangan diantaranya ketersediaan bahan ammonium polyphosphate atau amonium polifosfa (APP) dari Tiongkok
- Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan produksi massal tepung singkong untuk karhutla
RRI.CO.ID, Jakarta - Pengembangan riset material Flame Retardant berbasis pati singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghadapi sejumlah tantangan. Salah satu yang menjadi tantangan adalah ketersediaan ammonium polyphosphate atau amonium polifosfa (APP), yang harus didatangkan langsung dari Tiongkok.
“Amonium polifosfa tidak tersedia di Indonesia dan harus dibeli dari luar negeri yaitu Cina. Oleh sebab itu, ketersediaan bahan baku APP menjadi tantangan dalam riset kami,” kata Periset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Julinton, kepada RRI.CO.ID, Minggu, 6 September 2026.
Adapun tantangan lain, terkait teknis yang harus diselesaikan seperti scale-up (peningkatan skala) produksi pati sehingga dapat diproduksi secara massal. BRIN, kata Julinton membutuhkan dukungan untuk meningkatkan skala produksi mulai dari laboratorium.
Oleh sebab itu, BRIN tidak dapat menentukan waktu penyelesaian produksi hingga dapat digunakan untuk memadamkan karhutla. Selain itu, tidak ada target tertentu dari Presiden Prabowo Subianto untuk waktu penyelesaian.
“Kami belum menetapkan waktu pasti karena ada beberapa teknis yang harus diselesaikan terutama scale-up pati dan ketersediaan amonium polifosfa. Sejauh ini tidak ada target spesifik dari presiden untuk teknologi ini,” ujarnya.
Julinton mengatakan perkembangan inovasi pati singkong yakni pada tahap pengembangan di laboratorium terutama formulasi kestabilan penyemprotan. Pengembangan tersebut untuk melihat kemampuan efektivitas untuk menekan penyebaran api.
Ia mengapresiasi atas dukungan dari Polri yang akan melakukan pengujian skala terbatas dengan bantuan drone. “Respon positif Polri melakukan uji terbatas diarea 10 x 10, tujuannya kami ingin melihat formalasi ini yang mendekatkan kebakaran hutan terutama di Kalimantan,” ujarnya.
Julinton menegaskan pengembangan teknologi penanganan karhutla menjadi kebutuhan strategis nasional. Riset pengembangan pati singkong untuk mendukung prioritas BRIN baik jangka pendek, menengah dan panjang.
Fokus BRIN, kata Julinton ingin memastikan teknologi tepung singkong untuk penanganan karhutla, terbukti aman. Selanjutnya dapat diproduksi secara massal dan dapat diterapkan.
Sejauh ini belum ada penggunaan pati singkong di negara lain sebagai formula utama untuk memadamkan karhutla. Praktik umum yang digunakan adalah air, class a foams (Busa pemadam) dan Water-Enhan.
“Justru disini peluang Indonesia, singkong diproduksi dalam jumlah besar dan berpeluang dikembangkan secara lokal untuk meningkatkan retensi air. Pembentukan pelindung untuk vegatis, keunggulan harus dibuktikan terutama skala besar,” ujarnya.
BRIN, telah mengembangkan sejumlah inovasi untuk penanganan karhutla seperti pemantauan dan prediksi risiko menggunakan satelit dan penginderaan jauh. Modifikasi cuaca, pengembangan material dan sistem aplikasi untuk memitigasi dan pemadaman karhutla.
“BRIN juga melakukan pemantauan data, hotspot, cuaca, citra satelit dan data laporan untuk proses lebih cepat. BRIN memiliki inovasi modifikasi cuaca yang telah diaplikasi untuk pembasahan lahan dan proses pencegahannya,” ujarnya menerangkan.
Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan kepada Presiden Prabowo bahwa singkong berpotensi menjadi alternatif baru dalam penanganan karhutla. Inovasi tersebut pernah digunakan anggota Babinsa di Lubuklinggau, Sumatera Selatan dalam memadamkan karhutla.
“Ada sejenis zat yang menggunakan bahan utama digunakan untuk mencegah, kalau disemprot maka zat tersebut bisa mencegah dan memadamkan api. Antara api dan O2 terpisah, kami lihat bisa diproduksi kalau kita meriset,” kata Kapolri dalam rakor penanganan karhutla di Palembang. Sumatra Selatan.
Lantas Presiden Prabowo Subianto meminta agar BRIN dan pihak terkait lainnya melakukan penelitian dan memproduksi skala besar. “Coba diproduski dalam skala besar,” kata Presiden Prabowo.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....