BRIN Teliti Formula Singkong untuk Pengendalian Karhutla

  • 29 Agt 2026 14:55 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji pati singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan gambut (Karhutla)
  • Penggunan pati singkong dalam pemadaman memiliki dasar ilmiah yang dapat dikembangkan lebih lanjut melalui rekayasa kimia dan formulasi.
  • Kajian meliputi komposisi campuran zat hingga tekhnik penggunaan tepung singkong untuk memadamkan karhutla karena penggunaan tepung singkong harus menggunakan alat tertentu

RRI.CO.ID, Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan Material Flame Retardant berbasis pati singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Material tersebut dikombinasikan dengan senyawa fosfat untuk meningkatkan efektivitas penggunaan air dalam mengendalikan kebakaran vegetasi.

Material Flame Retardant ini dirancang untuk memperlambat atau menghentikan penyebaran api. Bahan ini tidak mudah terbakar dan akan langsung padam saat sumber api disingkirkan.

Periset Kimia Molekuler BRIN Julinton mengatakan, pati singkong memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan pendukung pemadaman karhutla. Namun, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungan masih harus dibuktikan melalui pengujian laboratorium dan lapangan.

“Pernyataan Presiden terkait penggunaan bahan berbasis singkong untuk mendukung pemadaman kebakaran memiliki dasar ilmiah yang kuat. Formulasi, efektivitas, keselamatan, dan dampak lingkungan tetap harus divalidasi,” kata Julinton dalam keterangan BRIN, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurut Julinton, pati singkong memiliki struktur polisakarida yang kaya gugus hidroksil. Struktur tersebut dapat dimodifikasi untuk meningkatkan kemampuan membentuk lapisan, mempertahankan air, dan berinteraksi dengan bahan retardan.

Dalam pengembangan material tersebut, pati singkong tidak digunakan secara tunggal. Formulasi juga mengandung ammonium polyphosphate (APP), air, serta wetting agent berkonsentrasi rendah.

“Air berfungsi menyerap panas dan menurunkan temperatur bahan bakar. Pati singkong termodifikasi meningkatkan adhesi dan mempertahankan cairan pada permukaan vegetasi,” ujarnya.

Sementara wetting agent membantu cairan menyebar dan menembus bahan bakar vegetasi. APP memberikan mekanisme retardasi kimia ketika material menerima panas.

Saat terkena panas, APP menghasilkan senyawa asam fosfat dan polifosfat. Mekanisme tersebut mendorong pembentukan residu karbon atau char sehingga mengurangi pembentukan senyawa volatil yang mudah terbakar.

Lapisan char kemudian membantu menghambat perpindahan panas dan massa. Lapisan tersebut juga membatasi kontak bahan bakar dengan oksigen sehingga berpotensi memperlambat perambatan api.

Julinton menjelaskan, mekanisme utama teknologi tersebut meliputi pendinginan, peningkatan pembasahan, retensi cairan, dan perubahan proses dekomposisi termal vegetasi. Teknologi tersebut dikembangkan untuk mendukung respons awal dan pengendalian penyebaran api.

Proses pengembangan dimulai dari ekstraksi pati singkong mentah. Pati kemudian dimurnikan dan dimodifikasi secara kimia untuk memperoleh karakteristik fisikokimia dan reologi yang sesuai.

Sejumlah metode modifikasi seperti fosforilasi dan cross-linking akan dievaluasi. Pengujian diarahkan untuk meningkatkan stabilitas formulasi, kemampuan membentuk lapisan, retensi air, dan sinergi dengan APP.

Formulasi kemudian dioptimalkan berdasarkan sejumlah parameter. Di antaranya viskositas, stabilitas penyimpanan, sedimentasi, kemampuan tercampur kembali, tegangan permukaan, serta kompatibilitas dengan pompa dan nozzle.

Dalam penerapannya, material dirancang untuk dicampurkan ke dalam tangki air sebelum penyemprotan. Konsentrasi optimum belum ditetapkan dan masih menunggu hasil penelitian serta pengujian.

Teknologi tersebut berpotensi digunakan melalui operasi udara maupun darat. Untuk aplikasi udara, formulasi harus disesuaikan agar distribusi ukuran tetesan dapat mengurangi drift dan penguapan.

Pada operasi drone, material dapat diarahkan untuk menangani titik api awal, sisi kebakaran, spot fire, maupun membentuk garis retardan. Kamera termal dapat membantu menemukan titik panas dan memantau potensi penyalaan kembali.

Sementara pada operasi darat, cairan dapat disemprotkan pada vegetasi di sekitar titik api. Material juga dapat digunakan untuk membentuk retardant line guna memperlambat perambatan api.

BRIN menegaskan teknologi tersebut bukan pengganti metode pemadaman yang sudah tersedia. CASSA-P dikembangkan sebagai teknologi pendukung untuk respons awal, pengendalian penyebaran, dan perlindungan area strategis.

Aspek lingkungan menjadi bagian penting dalam pengembangan material tersebut. BRIN belum mengklaim formulasi akhir sebagai bahan yang sepenuhnya mudah terurai atau tidak beracun.

“Keselamatan lingkungan CASSA-P harus dibuktikan melalui pengujian biodegradabilitas, fitotoksisitas, dampak terhadap organisme tanah dan air. Termasuk kandungan serta pelepasan fosfat dan nitrogen,” kata Julinton.

Kepala BRIN Arif Satria sebelumnya mengatakan, kajian juga mencakup komposisi bahan dan teknik penggunaannya. Menurutnya, pemanfaatan tepung singkong untuk pemadaman membutuhkan peralatan tertentu agar dapat diterapkan secara efektif.

“Dari sisi campuran zat maupun teknik pemadamannya sedang dikaji. Tidak mungkin ditaburi pakai tangan, harus menggunakan alat-alat tertentu,” ujar Arif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....