Polda Lampung Siapkan Mitigasi Kesehatan dari Abu Anak Krakatau

  • 06 Sep 2026 11:42 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Polda Lampung menyiapkan masker, layanan kesehatan, serta tim tanggap darurat menghadapi potensi paparan abu vulkanik.
  • Biddokkes berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan PERSI untuk menyiapkan rujukan kesehatan hingga SPGDT.
  • Anak Krakatau masih Level III, sementara masyarakat dilarang memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas.

RRI.CO.ID, Lampung – Polda Lampung memperkuat mitigasi kesehatan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Langkah tersebut disiapkan untuk melindungi personel dan masyarakat dari potensi paparan abu vulkanik.

Melalui Biddokkes, Polda Lampung menyiapkan distribusi masker sekaligus kesiapan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Upaya tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan peningkatan dampak erupsi.

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Pol. Yuni Isawandari Yuyun mengatakan pencegahan menjadi perhatian sejak awal. Perlindungan juga diberikan kepada personel yang bertugas langsung di kawasan berpotensi terdampak.

“Polda Lampung mengedepankan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan. Personel di lapangan juga kami pastikan mendapatkan perlindungan, termasuk masker,” ujarnya, Sabtu, 5 September 2026.

Selain diberikan kepada personel patroli, masker juga dibagikan kepada masyarakat di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung. Pembagian tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kesehatan apabila abu vulkanik mulai memengaruhi kualitas udara.

Seiring langkah tersebut, masyarakat di wilayah berpotensi terdampak diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap sebaran abu. Warga juga dianjurkan memakai masker dan membatasi aktivitas luar rumah ketika kondisi udara mulai terganggu.

“Jika abu vulkanik mulai terpapar, masyarakat kami imbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas luar rumah. Keselamatan dan kesehatan masyarakat harus menjadi perhatian bersama,” katanya.

Mitigasi kesehatan kemudian diperkuat melalui koordinasi Biddokkes Polda Lampung bersama Dinas Kesehatan. Koordinasi tersebut memastikan tim tanggap darurat siap bergerak apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.

Kesiapan mencakup mobilisasi tim untuk evakuasi dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak. Fasilitas rujukan juga disiapkan mulai dari puskesmas hingga rumah sakit tipe A.

Menurut Yuni, kesiapan tersebut diperlukan agar penanganan dapat dilakukan cepat ketika dampak erupsi meningkat. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat supaya setiap unsur mengetahui perannya sejak awal.

“Koordinasi lintas sektor terus dilakukan agar seluruh unsur selalu siap. Jika diperlukan evakuasi atau pelayanan kesehatan, semuanya sudah siap bergerak,” ujarnya.

Langkah berikutnya dilakukan melalui koordinasi bersama para direktur rumah sakit melalui PERSI. Koordinasi tersebut diarahkan untuk menyiapkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu atau SPGDT.

Sistem tersebut disiapkan menghadapi kondisi yang membutuhkan pelayanan kesehatan dalam jumlah besar. Kesiapan juga mencakup kemungkinan penanganan korban massal apabila situasi darurat berkembang.

Mitigasi ini dilakukan ketika aktivitas Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan laporan Badan Geologi, seri erupsi tipe Strombolian berlangsung sejak 2 Juli 2026.

Aktivitas tersebut menghasilkan lontaran batu pijar dan abu vulkanik dari pusat erupsi. Kondisi gunung kemudian kembali menunjukkan aktivitas menerus pada Sabtu malam.

Pada 5 September 2026 pukul 23.07 WIB, erupsi menerus terjadi disertai suara gemuruh. Fenomena semburan merah menyerupai lava fountain juga teramati dari pos pengamatan.

Perkembangan tersebut membuat Badan Geologi kembali mengingatkan masyarakat agar mematuhi radius aman. Wisatawan dan pendaki juga dilarang memasuki wilayah tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.

Ancaman yang perlu diwaspadai meliputi lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat. Karena itu, masyarakat diminta tetap mengikuti perkembangan resmi dari pemerintah dan petugas terkait.

Yuni meminta masyarakat tetap tenang tanpa mengabaikan setiap peringatan yang disampaikan petugas. Penggunaan masker kembali ditekankan bagi warga yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik.

“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak panik, tetapi jangan mengabaikan peringatan. Gunakan masker dan kurangi aktivitas luar apabila berada di wilayah terdampak abu vulkanik,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....