Abu Anak Krakatau Capai Jakarta, Ketahui Efek Bahayanya bagi Kesehatan
- 06 Sep 2026 08:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan, mata, kulit, hingga silikosis akibat paparan berkepanjangan
- Anak, lansia, serta penderita asma dan PPOK menjadi kelompok yang lebih rentan terhadap paparan
- Masker, pelindung mata, dan membatasi aktivitas luar ruangan dapat membantu mengurangi risiko paparan.
RRI.CO.ID, Jakarta – Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau mencapai sebagian wilayah Jakarta setelah erupsi sejak Jumat, 4 Agustus 2026. Sebaran tersebut membuat masyarakat perlu mewaspadai dampaknya, terutama bagi kesehatan pernapasan, mata, dan kulit.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu memahami risiko paparan abu vulkanik terhadap kesehatan tubuh. Partikel halus dapat terbawa udara dalam jarak jauh dan berpotensi masuk melalui pernapasan maupun mengenai tubuh.
Berikut empat bahaya kesehatan yang perlu diwaspadai saat abu vulkanik menyebar di lingkungan sekitar mengutip Hello Sehat.
1. Gangguan Pernapasan
Abu vulkanik dapat memicu gangguan pernapasan, terutama pada anak, lansia, serta penderita asma dan PPOK. Paparan partikel halus dapat menyebabkan batuk, sakit tenggorokan, sesak napas, pilek, hingga mengi pada kelompok rentan.
Risiko juga meningkat terhadap infeksi saluran pernapasan atas maupun bawah ketika paparan berlangsung cukup lama. Karena itu, penggunaan masker penting untuk mengurangi masuknya partikel abu ke saluran pernapasan.
2. Iritasi dan Gangguan Mata
Partikel abu yang tajam dapat mengiritasi mata dan memicu konjungtivitis pada orang yang terpapar. Gejalanya dapat berupa kemerahan, rasa gatal, nyeri, mata berair, hingga sensasi seperti kemasukan benda asing.
Gesekan partikel juga berpotensi menimbulkan abrasi kornea apabila abu masuk dan terus menggores permukaan mata. Kondisi tersebut membutuhkan penanganan karena kerusakan kornea dapat menjadi permanen bila dibiarkan terlalu lama.
3. Iritasi Kulit
Abu vulkanik juga dapat mengiritasi kulit karena sifat abrasif dan kandungan kimianya yang bersifat asam. Keluhan yang muncul dapat berupa gatal, kemerahan, bengkak, serta ruam panas atau terasa perih.
Derajat iritasi dapat berbeda tergantung komposisi abu, sumber erupsi, serta jenis material vulkanik yang terbawa. Masyarakat sebaiknya segera membersihkan kulit setelah terpapar dan menghindari menggosok area yang terkena abu.
4. Risiko Silikosis
Silikosis menjadi risiko jangka panjang ketika seseorang terus terpapar debu silika dalam waktu lama. Silika dalam abu dapat masuk ke paru-paru dan memicu luka serta pembentukan jaringan parut.
Gejalanya meliputi batuk, mengi, sesak napas, nyeri dada, demam, hingga penurunan berat badan. Paparan berkepanjangan berpotensi merusak paru-paru secara serius dan membutuhkan pemeriksaan medis bila gejala muncul.
Cara Melindungi Diri dari Abu Vulkanik
Untuk mengurangi paparan, masyarakat disarankan tetap berada di dalam ruangan ketika abu masih beterbangan. Pintu, jendela, dan ventilasi sebaiknya ditutup agar partikel halus tidak mudah masuk ke rumah.
Masker N95 atau masker medis dapat digunakan untuk melindungi saluran pernapasan dari debu vulkanik. Kacamata pelindung juga dianjurkan, sementara pengguna lensa kontak sebaiknya melepasnya selama paparan berlangsung.
Abu yang menempel sebaiknya dibasahi sebelum dibersihkan agar partikel tidak kembali beterbangan di udara. Jika muncul gangguan pernapasan, mata, atau kulit, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....