Kemenperin Akselerasi Ekosistem Kendaraan Listrik Hulu hingga Hilir

  • 04 Sep 2026 14:19 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Perindustrian mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik yang mencakup seluruh rantai nilai dari pengolahan bahan baku hingga daur ulang baterai.
  • Ekosistem kendaraan listrik nasional mencakup lima komponen utama: pengolahan bahan baku, manufaktur sel baterai dan battery pack, industri komponen, manufaktur kendaraan listrik, serta pasar domestik dan daur ulang.
  • Pengembangan ekosistem ini dirancang untuk memperkuat basis manufaktur kendaraan listrik nasional dan menciptakan nilai tambah melalui penguatan keterkaitan dengan rantai pasok domestik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Perindustrian mengakselerasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dari hulu hingga hilir. Ekosistem tersebut mencakup pengolahan bahan baku, manufaktur sel baterai dan battery pack, industri komponen, manufaktur kendaraan listrik, pasar domestik, daur ulang baterai.

Pengembangan ekosistem tersebut menjadi bagian dari penguatan basis manufaktur kendaraan listrik nasional. Investasi kendaraan listrik juga diarahkan untuk menciptakan nilai tambah dan memperkuat keterkaitan dengan rantai pasok domestik.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berharap kehadiran BYD semakin memperkuat keterkaitan antarmata rantai industri kendaraan listrik. Pelibatan industri komponen dan pemasok dalam negeri juga diharapkan semakin besar.

“Kami berharap kehadiran BYD dapat semakin memperkuat keterkaitan antarmata rantai industri tersebut. Termasuk dengan semakin banyak melibatkan industri komponen dan pemasok dalam negeri,” ujar Agus dalam peresmian fasilitas produksi BYD Motor Indonesia di Subang, Kamis, 3 September 2026.

Penguatan struktur industri kendaraan listrik juga didorong melalui peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara bertahap. Peta jalan pengembangan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menetapkan TKDN minimal 40 persen hingga 2026, 60 persen pada 2027-2029.

Agus menjelaskan peningkatan TKDN penting agar investasi kendaraan listrik tidak berhenti pada aktivitas perakitan. Menurutnya, peningkatan tersebut juga diharapkan semakin melibatkan industri komponen, material, dan pemasok dalam negeri.

“Ada arahan dari Pak Luhut, agar kita coba pelajari untuk memberikan program insentif yang berbasis penguatan nilai TKDN. Jadi semakin tinggi nilai TKDN, itu semakin perlu mendapat perhatian dari pemerintah termasuk persiapan-persiapan dalam pemberian insentif,” ujar Agus.

Kemenperin akan segera mendesain dan mengoordinasikan gagasan skema insentif berbasis TKDN bersama kementerian dan lembaga terkait. Skema tersebut diharapkan mendorong produsen kendaraan listrik memperbesar penggunaan komponen domestik sekaligus menarik pemasok global membangun fasilitas produksi di Indonesia.

Pasar kendaraan listrik nasional terus berkembang. Hingga April 2026, populasi kendaraan listrik di Indonesia mencapai sekitar 486 ribu unit.

Pada semester I 2026, penjualan Battery Electric Vehicle (BEV) mencapai sekitar 70 ribu unit dengan pangsa pasar sekitar 16 persen. Sementara itu, penjualan Hybrid Electric Vehicle (HEV) mencapai sekitar 40.400 unit dengan pangsa pasar mendekati 10 persen.

Agus menyebut besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia terhadap teknologi kendaraan rendah emisi semakin kuat. Pemerintah juga menghadirkan kebijakan afirmatif yang mencakup pembangunan pasar serta penguatan struktur industri dan kapasitas produksi dalam negeri.

“Besarnya pangsa kendaraan elektrifikasi menunjukkan penerimaan konsumen Indonesia terhadap teknologi kendaraan rendah emisi semakin kuat. Karena itu, pemerintah terus menghadirkan kebijakan afirmatif yang memperkuat struktur industri dan kapasitas produksi di dalam negeri,” ucap Agus.

Investasi kendaraan listrik diharapkan memberikan efek berganda melalui keterkaitan antarmata rantai industri. Efek tersebut mencakup peningkatan nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, penguasaan teknologi, pengembangan sumber daya manusia industri, hingga peningkatan ekspor.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....