Wamendiktisaintek: Perguruan Tinggi Harus Perkuat Riset Berdampak
- 02 Sep 2026 19:45 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat riset berdampak yang melampaui lingkungan akademik semata.
- Konsep Diktisaintek Berdampak mengarahkan perguruan tinggi untuk menghasilkan penelitian yang meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
- Pengembangan riset menjadi salah satu upaya utama dalam menerjemahkan visi pendidikan tinggi yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
RRI.CO.ID, Jakarta – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan mendorong perguruan tinggi memperkuat riset atau penelitian berdampak. Menurutnya, perguruan tinggi perlu menggeser paradigma agar riset tidak hanya berhenti dalam lingkungan akademik.
Fauzan mengatakan pengembangan riset menjadi salah satu upaya menerjemahkan konsep Diktisaintek Berdampak. Konsep tersebut mengarahkan perguruan tinggi menghasilkan riset yang meningkatkan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
“Ketika Presiden menetapkan 8 persen pertumbuhan ekonomi di tahun 2029, kira-kira apa yang harus dikerjakan oleh perguruan tinggi?. Ini tidak mudah, tidak ada pilihan lain, harus menggeser paradigma tata kelola pendidikan tinggi,” kata Wamen Fauzan saat menghadiri kegiatan dialog yang betajuk ‘Ragi Nusantara: Dari Sepotong Tempe untuk Ketahanan Pangan’ di Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Ia menilai perguruan tinggi perlu lebih dekat dengan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat. Karena, menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mempercepat saintifikasi kehidupan melalui riset dan inovasi.
Fauzan mencontohkan Thailand yang dinilai telah mengembangkan saintifikasi di bidang pertanian dengan lebih maju. Ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap sejumlah komoditas Thailand menunjukkan lambatnya perkembangan saintifikasi di dalam negeri.
“Kita miris, mau beli kates (pepaya) saja namanya kates Thailand, itu artinya apa?. Di Thailand memang sedang atau bahkan telah berjalan saintifikasi di bidang pertanian,” ucapnya.
Menurut Fauzan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perguruan tinggi mengambil peran dalam pengembangan komoditas melalui riset. Ia menilai penguatan fungsi saintifik diperlukan agar produk lokal memiliki nilai lebih tinggi dan berdaya saing.
Fauzan kemudian menyoroti tempe sebagai produk lokal yang memiliki peluang dikembangkan melalui riset. Menurutnya, inovasi diperlukan agar tempe tidak hanya menjadi produk konsumsi lokal, tetapi mampu menembus pasar global.
“Apa yang Bapak/Ibu saksikan Ragi Nusantara, ini adalah salah satu ikhtiar dalam rangka untuk menguatkan fungsi saintifik dalam kehidupan pertempean. Menarik loh tempe itu, tempe itu kalau dalam kehidupan sehari-hari itu bisa menjadi metafora,” ujarnya.
Fauzan mengatakan riset tempe perlu diarahkan pada pengembangan produk, inovasi, dan peningkatan nilai ekonomi. Wamen ini bahkan membayangkan tempe hasil inovasi perguruan tinggi dapat diproduksi ... untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
“Saya membayangkan riset sudah ada, bahan sudah ada, inovasi produknya nanti bisa kita buat. Kita tinggal cari offtaker industri yang mampu memproduksi tempe kelas ekspor,” katanya.
Ia menegaskan riset berdampak harus menghasilkan perubahan nilai yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena itu, kebermanfaatan menjadi ukuran penting dalam mendorong perguruan tinggi menghasilkan inovasi.
Fauzan menilai inovasi produk tempe saat ini masih relatif terbatas pada sejumlah olahan turunan. Menurutnya, pengembangan lebih lanjut diperlukan agar tempe mampu berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi dan berdaya saing global.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....