BRIN Dukung Pengembangan Ekosistem Kawasan Industri Teknologi Tinggi
- 02 Sep 2026 16:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- BRIN mendorong pembangunan kawasan industri berbasis teknologi tinggi yang membangun ekosistem riset, pengembangan, produksi, hingga pemasaran
- Kawasan teknologi tinggi perlu didukung lembaga riset, perguruan tinggi, pengembangan SDM, dan fasilitas pengujian bersama
- Insentif pemerintah perlu mempertimbangkan kekayaan intelektual dan keberhasilan produk hasil riset memasuki pasar
RRI.CO.ID, Jakarta - Pakar Industri Tertentu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Hotmatua Daulay mendorong pembangunan kawasan industri berbasis teknologi tinggi. Menurutnya, konsep tersebut harus membangun ekosistem teknologi, bukan sekadar menyediakan lahan dan fasilitas pendukung industri.
“Perlu kita luruskan, kalau yang disebut kawasan industri berbasis teknologi tinggi ini bukan hanya sekadar punya tanah, ada lahan, kemudian disewakan. Kemudian ada fasilitas-fasilitas lainnya, jalan atau air dan lain-lain. Tetapi bagaimana di kawasan ini iklim ekosistem teknologi tinggi itu terbangun,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Panja RUU tentang Kawasan Industri bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 2 September 2026.
Hotmatua menjelaskan, kawasan industri teknologi tinggi perlu menghubungkan kegiatan riset, pengembangan, produksi, hingga pemasaran produk. Di dalamnya, hasil penelitian dapat berkembang menjadi prototipe, diuji, diproduksi, kemudian masuk ke pasar.
Ia menilai kawasan tersebut juga membutuhkan lembaga riset, perguruan tinggi, serta fasilitas bersama untuk pengembangan sumber daya manusia. Fasilitas pengujian dapat digunakan bersama sehingga industri tidak selalu harus membangun laboratorium dan pusat penelitian sendiri.
Menurut Hotmatua, Indonesia pernah membangun konsep serupa melalui Puspiptek yang memiliki laboratorium pengujian untuk mendukung produksi. Kawasan tersebut juga berdekatan dengan Institut Teknologi Indonesia dan rencana kawasan industri yang kini bernama Techno.
Ia menekankan pembeda utama kawasan teknologi tinggi terletak pada pengembangan pengetahuan, rekayasa, talenta IPTEK, serta jejaring fasilitas. Ekosistem tersebut juga harus mendukung transfer teknologi, pengurusan lisensi, dan pengembangan kekayaan intelektual karya anak bangsa.
Hotmatua mengatakan pemberian insentif sebaiknya mempertimbangkan kekayaan intelektual dan produk hasil riset yang berhasil masuk pasar. Pemerintah juga dapat memberikan insentif kepada kawasan yang berperan membangun ekosistem pengembangan teknologi tersebut.
“Dan bagus juga kalau kawasan itu juga mendapatkan insentif dari pemerintah karena tadi ikut membangun sistem ekosistem di dalam kawasan itu. Nah, dengan membangun seperti ini mudah-mudahan ke depan industri kita juga semakin mapan,” kata Hotmatua.
Ia berharap pengembangan kawasan tersebut mampu meningkatkan produktivitas, nilai tambah nasional, daya saing industri domestik, dan teknologi dalam negeri. Konsep itu juga memungkinkan terbentuknya interaksi antara industri, riset, perguruan tinggi, pelatihan tenaga kerja, serta fasilitas pengujian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....