Festival Ngobrol Buku Hidupkan Kembali Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern
- 01 Sep 2026 11:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Festival Ngobrol Buku 2026 menghadirkan lokakarya cerpen berjudul 'Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern' sebagai upaya menjembatani kesenjangan antara generasi muda dan tradisi lisan cerita rakyat.
- Kegiatan lokakarya tersebut berlangsung selama tiga hari, yaitu 28-30 Agustus 2026 di Roha Cafe, Medan, Sumatra Utara.
- Inisiatif ini merespons tantangan yang dihadapi cerita rakyat ketika generasi muda semakin menjauh dari tradisi lisan, dengan memanfaatkan karya sastra modern sebagai medium penghubung.
RRI.CO.ID, Jakarta – Cerita rakyat menghadapi tantangan baru ketika generasi muda semakin jauh dari tradisi lisan. Festival Ngobrol Buku 2026 mencoba mempertemukan kembali cerita lama dengan pembaca melalui karya sastra modern.
Upaya tersebut dilakukan melalui lokakarya cerpen bertajuk ‘Menghidupkan Cerita Rakyat untuk Pembaca Modern’. Kegiatan tersebut berlangsung dari 28-30 Agustus 2026 lalu di Roha Cafe, Medan, Sumatra Utara.
“Kami menerima total 100 naskah cerpen calon peserta selama masa pengumpulan naskah pada 1-18 Agustus 2026. Tim panitia kemudian menyeleksi naskah tersebut dan menetapkan 45 orang peserta untuk mengikuti kegiatan lokakarya,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Alda Muhsi dalam keterangan tertulis Selasa, 1 September 2026.
Peserta berasal dari pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum dengan latar belakang yang beragam. Mereka berasal dari Medan, Tanjungbalai, Pematangsiantar, hingga Tapanuli Utara untuk mengikuti proses pembelajaran.
Sebanyak 15 pelajar berasal dari SMA dan madrasah di Sumatra Utara. Kemudian, 15 mahasiswa berasal dari sejumlah perguruan tinggi di Sumatra Utara.
Peserta mahasiswa berasal dari Universitas Negeri Medan, UIN Sumatera Utara, UISU, serta Universitas HKBP Nommensen. Sementara peserta umum mencakup guru, pegawai, pengemudi ojek daring, dan pekerja lepas.
Selama lokakarya, peserta mengolah cerita rakyat Sumatra Utara bersama sastrawan Yusi Avianto Pareanom dan Koko Hendri Lubis. Mereka dibimbing mengembangkan cerita lama menjadi cerpen yang dapat menjangkau pembaca masa kini.
Koko mengatakan cerita rakyat menyimpan ingatan mengenai kehidupan masyarakat yang diwariskan antargenerasi melalui berbagai bentuk. “Cerita rakyat merupakan wahana untuk mengingatkan kembali kenangan masa lalu yang selama ini terlupakan,” kata Koko.
Menurut Koko, Sumatra Utara memiliki banyak cerita rakyat yang berasal dari berbagai kelompok etnis. Ia menyebut Merak Jingga, Palu Hantu, dan Panglima Berbulu Besi sebagai beberapa contohnya.
Dalam proses adaptasi, peserta tidak sekadar mempertahankan cerita dalam bentuk aslinya. Mereka juga diarahkan menggali nilai lokal untuk dikembangkan menjadi karya yang sesuai kebutuhan pembaca masa kini.
Tradisi dalam bentuk cerita rakyat tidak selalu harus dipertahankan melalui bentuk yang sama. Perubahan bentuk justru dapat menjadi cara memperpanjang proses pewarisan kepada generasi berikutnya.
Proses tersebut sejalan dengan gagasan bahwa warisan budaya takbenda merupakan sesuatu yang terus hidup. Tradisi dapat berubah ketika berpindah kepada generasi berbeda dan menghadapi konteks kehidupan yang baru.
Karena itu, folklor dapat menjadi bahan kreatif yang berkembang melalui novel, komik, film, animasi, gim, maupun konten digital. Pengembangan tersebut membuka kemungkinan cerita lokal menjangkau masyarakat melalui berbagai medium kekinian.
Namun, perubahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan mengenai kepemilikan dan manfaat ketika folklor menjadi bagian industri kreatif. Persoalan tersebut menjadi penting ketika cerita komunitas mulai dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.
Festival Ngobrol Buku kemudian memilih sastra sebagai salah satu cara memperpanjang rantai pewarisan cerita rakyat. Karya 45 peserta direncanakan akan diterbitkan dalam tiga antologi berdasarkan kategori peserta.
Masing-masing antologi direncanakan dicetak sebanyak seratus eksemplar untuk memperluas akses terhadap karya peserta. Antologi tersebut kemudian akan dibicarakan melalui diskusi sastra pada September 2026.
Sementara itu, Ketua Komunitas Ngobrol Buku Eka Dalanta berharap kegiatan tersebut melahirkan karya cerpen berbasis budaya lokal. Ia juga berharap kegiatan tersebut menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap warisan budaya daerah.
“Kita berharap festival ini dapat mendorong lahirnya karya-karya cerpen berbasis budaya lokal. Karya tersebut diharapkan layak dipublikasikan dan menumbuhkan kecintaan terhadap warisan budaya daerah,” ujar Eka.
Bagi peserta, proses tersebut tidak hanya memperkenalkan cerita rakyat sebagai bahan penulisan kreatif. Perjumpaan dengan cerita lokal juga membuka ruang untuk memahami kembali nilai yang terkandung didalamnya.
Cerita rakyat menyimpan pandangan mengenai alam, keluarga, kekuasaan, keberanian, serta batas kebaikan dan keburukan. Ketika pewarisan berhenti, masyarakat berisiko kehilangan salah satu cara memahami ingatan kolektifnya.
Festival Ngobrol Buku 2026 menunjukkan bahwa pelestarian cerita tidak selalu berarti mempertahankan bentuk lamanya. Cerita dapat terus hidup ketika generasi baru menemukan alasan untuk membaca dan menceritakannya kembali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....