Dieng Sah Jadi Pelopor GI Tourism Pertama di Indonesia!
- 30 Agt 2026 11:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Dieng, Banjarnegara, dipilih menjadi destinasi pertama yang diperkenalkan sebagai Geographical Indication Tourism (GI Tourism)
- Pengembangan GI Tourism menggabungkan produk Indikasi Geografis dengan pengalaman wisata
- Tiga produk Indikasi Geografis Dieng yang dikembangkan yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, dan Purwaceng
- Wisatawan akan diajak mengenal produk dari proses budidaya, pengolahan, hingga menikmati produk khas Dieng
- GI Tourism diarahkan meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat
RRI.CO.ID, Banjarnegara - Dieng ditetapkan menjadi destinasi pertama di Indonesia yang mengusung konsep Geographical Indication Tourism atau wisata berbasis Indikasi Geografis. Kawasan dataran tinggi di Kabupaten Banjarnegara tersebut memiliki tiga produk unggulan bersertifikat resmi.
Tiga produk tersebut meliputi Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng, serta tanaman obat Purwaceng. Penyerahan sertifikat Indikasi Geografis kopi lokal dilaksanakan bersamaan dengan pendaftaran merek kolektif kawasan.
Pengembangan konsep pariwisata berkelas internasional ini melibatkan Kementerian Hukum, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta Pemerintah Kabupaten Banjarnegara. Penyelenggaraan program dirancang guna meningkatkan lama tinggal wisatawan sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat lokal.
Ketua Tim Kerja Pemanfaatan dan Pengawasan Indikasi Geografis DJKI Kemenkum Irma Mariana memaparkan rencana promosi komoditas ke global. “Tidak hanya di Indonesia, tapi kami akan jual dan kita promosikan ini ke manca negara,” kata Irma dalam IP Talks & Coffee di Festival Kopi Dieng 2026 yang disiarkan YouTube DJKI Kemenkum, dilihat RRI.co.id, Minggu, 30 Agustus 2026.
Irma mengungkapkan proses pemilihan kawasan Dieng yang akhirnya menggeser beberapa daftar target lokasi pilot project lainnya. Komunikasi aktif bersama para pelaku ekonomi kreatif lokal melandasi keputusan penetapan kawasan wisata kekayaan intelektual ini.
“Entah kenapa mungkin Allah yang mengiring kami untuk menjadikan Dieng yang tidak masuk ke dalam list pilot project. Akhirnya menjadi destinasi pertama yang nanti akan kami perkenalkan sebagai destinasi GI tourism Dieng,” ujar Irma.
Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Banjarnegara Kristiano Hadi Pranoto merancang alur perjalanan wisata edukatif selama tiga hari dua malam. Wisatawan diajak mempelajari seluruh tahapan pengolahan komoditas unggulan lokal dari sektor hulu hingga hilir.
“Jadi nanti teman-teman wisatawan mungkin sekitar tiga hari dua malam kita akan ajak untuk menikmati tiga produk. Indikasi geografis kopi Dieng mulai dari hulu hingga hilir,” ucap Kristiano.
Penggagas Dieng Culture Festival Alif Faozi menekankan bahwa pariwisata berkualitas harus menyajikan pengalaman serta aktivitas pembelajaran bagi para pengunjung. Konsep tersebut diyakini mampu meningkatkan pengeluaran wisatawan untuk membeli berbagai produk khas daerah.
“Pariwisata berkualitas itu tidak hanya mengajak wisatawan hanya something to see saja. Tetapi, bagaimana kita bisa mengajak wisatawan itu something to do, something to learn, something to feel and something to buy,” tutur Alif.
Bupati Banjarnegara Amalia Desyana menyatakan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penuh seluruh ruang kreasi komunitas lokal. Dukungan diberikan tanpa melakukan intervensi berlebih agar potensi ekonomi kreatif kawasan dapat berkembang optimal.
“Tetapi selebihnya kami yakin dan percaya ketika rekan-rekan ini diberikan ruang. Mereka akan memberikan performa terbaiknya,” kata Amalia.
Direktur Musik Kementerian Ekonomi Kreatif Mohammad Amin memuji penyelenggaraan agenda kebudayaan Dieng yang tumbuh secara berbasis komunitas. Festival lokal yang berkembang secara alami dinilai menjadi modal kuat dalam menjaga keberlanjutan pariwisata daerah.
“Penyelenggaraannnya baik. Menurut saya ini adalah festival yang organik,” ujar Amin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....