Pengusaha Ritel Fesyen Ungkap Pakaian Layak Pakai Berpotensi Jadi Limbah
- 27 Agt 2026 22:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Direktur Bisnis dan Operasional KCG mengidentifikasi masalah pakaian layak pakai yang berakhir menjadi limbah karena kesulitan penyaluran kepada penerima yang tepat.
- Pakaian donasi sering tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat penerima, sehingga berpotensi dibuang meskipun masih layak digunakan.
- Diperlukan sistem jembatan atau mekanisme yang lebih baik untuk menghubungkan pakaian layak pakai dengan masyarakat yang benar-benar membutuhkannya.
RRI.CO.ID, Jakarta – Direktur Bisnis dan Operasional PT Kurnia Ciptamoda Gemilang (KCG) menyoroti persoalan pakaian layak pakai yang berakhir menjadi limbah. Menurutnya, persoalan tersebut perlu dijembatani agar pakaian yang masih layak dapat disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Ia mengatakan pakaian yang hendak didonasikan belum tentu sesuai dengan masyarakat yang menerima. Kondisi tersebut membuat pakaian yang masih layak digunakan akhirnya sulit disalurkan dan berpotensi dibuang.
“Pakaian ini merupakan limbah polusi salah satu yang terbesar, misalnya saya punya pakaian yang sudah tidak digunakan lagi. Kemudian, saya coba donasikan ke lingkungan sekitar saya, terus size-nya enggak bisa cocok, saya bingung mau dikemanain lagi,” ujar Haryanto Pratantara, Sekretaris Jenderal Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) di Jakarta, Kamis, 27 Agustus 2026.
Di sisi lain, Haryanto mengungkapkan masih terdapat 24 juta orang Indonesia yang membutuhkan pakaian layak tersebut. Menurut pengusaha itu, kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara pihak yang ingin memberikan pakaian dengan masyarakat yang membutuhkan.
“Bayangkan pakaian yang kita buang walau masih layak pakai karena kita bingung mau disalurkan ke mana. Tapi masih ada 24 juta orang Indonesia yang masih butuh pakaian layak tersebut,” ucapnya.
Haryanto mengatakan persoalan tersebut memiliki dampak sosial dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian bersama. Maka itu, ia mengajak pelaku bisnis dan masyarakat berkontribusi untuk mengurangi persoalan tersebut melalui langkah yang dapat dilakukan bersama.
Menurut Haryanto, perhatian terhadap dampak sosial dan lingkungan juga dapat berjalan seiring dengan kepentingan bisnis. Ia menyebut perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha perlu memperhatikan aspek tersebut dalam menjalankan bisnisnya.
“Jadi sebenarnya, bisnis yang menghasilkan profit beserta dengan kita perhatikan sosial dan environmental impact itu ternyata bisa seiring. Nah, dalam hal ini kita akan coba share apa yang kita lakukan,” kata dia.
Haryanto mencontohkan, salah satu merek fesyen melalui programnya mengajak konsumen mendonasikan pakaian dari berbagai merek melalui toko tersebut. Jika pakaiannya masih layak akan disalurkan kepada masyarakat membutuhkan melalui kerja sama dengan Cinta Laura Foundation.
Sementara, pakaian yang sudah tidak layak digunakan akan didaur ulang melalui kerja sama dengan Rantai Tekstil Lestari dan Re-Factory. Menurut Haryanto, langkah tersebut menjadi contoh yang dapat dilakukan pelaku usaha untuk menangani pakaian yang tidak lagi digunakan.
Selain itu, Haryanto mengatakan HIPPINDO juga akan bekerja sama dengan kementerian terkait, khususnya bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kerja sama tersebut diarahkan untuk menyalurkan pakaian layak kepada ritel UMKM agar dapat menjadi bagian dari barang dagangan mereka.
Menurutnya, langkah tersebut dapat membantu menjembatani persoalan pakaian layak yang belum tersalurkan dengan kebutuhan ritel UMKM. Ia menilai pelaku bisnis dapat memulai kontribusi melalui langkah nyata yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
“Paling tidak kita sebagai pelaku bisnis. Kita bisa start dengan apa yang bisa kita lakukan, bertanggung jawab terhadap bisnis kita masing-masing,” ujar Haryanto.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....